TEORI METAKOGNISI

    Pengertian Metakognisi

Metakognisi merupakan kata yang berkaitan dengan apa yang dikenal tentang dirinya selaku orang yang belajar serta bagaimana dia mengendalikan dan membiasakan perilakunya. Metakognisi merupakan sesuatu wujud keahlian untuk memandang diri sendiri sehingga apa yang ia jalani bisa terkendali secara maksimal (Anggraeni, 2015). Sebagian pakar mendefinisikan metakognisi adalah "berpikir menimpa berpikir", sedangkan sebagian pakar lain mendefinisikan dengan "mengenali tentang mengenali" (Werdiningsih, 2015). Keahlian refleksi diri dari proses kognitif yang sedang berlangsung ialah suatu yang unik untuk seseorang. Keahlian refleksi diri memiliki peran penting dalam pemahaman manusia. Oleh karena itu, metakognisi memiliki peran penting dalam mengikutsertakan pemikiran seseorang.

Schoenfeld (dalam Nur, 2008) mendefinisikan metakognisi sebagai pemikiran tentang pemikiran diri sendiri yang merupakan interaksi antara tiga aspek penting, yaitu pengetahuan tentang proses berpikir diri sendiri, pengontrolan atau pengaturan diri, serta keyakinan dan intuisi. Salah satu keahlian metakognisi mengacu pada pemahaman serta pengetahuan pelajar mengenai sistem memori yang dimiliki sendiri. Beberapa pakar psikologi kognitif sudah meningkatkan apa yang mereka sebut sebagai information processing tentang pendidikan. Dalam pemikiran ini, ide-ide serta data baru awal mulanya sebagai masukan sensori yang masuk ke dalam register ataupun pencatat penglihatan suara serta bau. Setelah sensori itu sudah dipahami dan dicatat, masukan sensori tersebut bergerak masuk ke dalam sesuatu ruang kerja yang disebut memori jangka pendek atau short term memory, yaitu tempat masukan sensori tersebut diproses ataupun dilupakan.

Cohors-Fresenborg dan Kaune merangkum komponen-komponen metakognisi ke dalam tiga aktivitas metakognisi yang dilakukan dalam menjawab soal, yaitu: (1) merencanakan (planning); (2) memantau (monitoring); dan (3) merefleksi (reflection). Planning yaitu aktivitas menentukan tujuan dan meng- analisis tugas. Aktivitas ini membantu mengaktivasi pengetahuan yang relevan sehingga mempermudah pengorganisasian dan pemahaman materi pelajaran secara mendalam. Monitoring yaitu aktivitas memperhatikan seseorang ketika membaca dan membuat pertanyaan atau pengujian diri. Aktivitas ini membantu siswa dalam memahami materi dan mengintegrasikannya dengan pengetahuan awal. Reflection yaitu aktivitas menyesuaikan dan memperbaiki aktivitas kognitif siswa.

Para peneliti berpendapat bahwa metakognisi mulai berkembang selama tahun-tahun awal masa kanak-kanak dan secara bertahap meningkat sebagai hasilnya pematangan otak dan belajar. Misalnya, Schraw dan Moshman mengatakan bahwa perkembangan metakognisi dimulai pada anak usia dini, dengan pengetahuan metakognisi berkembang lebih cepat daripada keterampilan regulasi. Menurut Schraw dan Moshman, anak- anak berusia enam tahun dapat merefleksikan keakuratan pengetahuan mereka. Namun, kemampuan mereka untuk mengatur kognisi mereka (perencanaan, pemantauan, dan evaluasi) tidak terbukti sampai usia 10-14 tahun. Meskipun anak-anak mampu merefleksikan kinerja mereka, keakuratan penilaian mereka terhadap kinerja sebenarnya buruk. Kesimpulannya, bukti empiris baru-baru ini menunjukkan bahwa bentuk metakognisi yang belum sempurna muncul pada tahun awal masa kanak-kanak dan secara bertahap menjadi lebih canggih selama masa remaja.


Implementasi Teori Metakgonisi di PAUD

Peran metakognisi dalam pembelajaran pada anak usia dini yaitu dengan dukungan atau fasilitasi dari pendidik dalam mengajarkan keterampilan berpikir kepada anak usia dini. Metakognisi bermanifestasi dalam berbagai bentuk dan domain subjek yang berbeda, seperti bahasa, matematika, sains, dan pendidikan jasmani. Misalnya, metode umum untuk mengajar bahasa di lingkungan anak usia dini adalah membaca buku bersama. Oleh karena itu, guru sering meminta anak kecil untuk mengingat, memprediksi, dan menjelaskan alur cerita. Teknik-teknik ini dapat mendorong anak-anak kecil untuk merenungkan dan mengungkapkan pemikiran mereka sendiri.


Dalam matematika, peneliti telah menemukan teknik seperti kolaborasi, menulis-untuk-belajar, penjelasan diri, dan peer review guna meningkatkan pemahaman anak-anak tentang konsep matematika. Melakukan kegiatan sains seperti tenggelam dan mengapung-dapat menyajikan masalah, melakukan eksperimen langsung, dan mendiskusikan temuan merupakan strategi instruksional umum. Kegiatan diselaraskan dengan strategi metakognitif (yaitu, merencanakan, memantau, dan mengevaluasi). Selain itu, Zohar dan Barzilai berpendapat bahwa sains adalah konteks utama untuk menumbuhkan keterampilan berpikir yang lebih canggih (misalnya, metakognisi) karena metakognisi mencerminkan pengetahuan ilmiah dan proses penemuan sehingga memperkuat hasil belajar anak (Chen & McDunn, 2022).

Para peneliti yang mempelajari metakognisi di tahun-tahun awal meng- ungkapkan beberapa teknik instruksional yang dapat meningkatkan kemampuan anak-anak seperti kemampuan untuk merefleksikan pemikiran mereka sendiri. Misalnya, metode "menggambar-bercerita" mengharuskan anak-anak menggambar pemikiran mereka pada sebuah karya kertas dan mengungkapkan secara verbal apa yang ada di gambar tersebut. Melalui kegiatan ini, anak belajar untuk berpikir dan untuk mengartikulasikan pemikiran mereka saat sedang berlangsung. Selain itu, misalnya, ketika anak bermain pura-pura akan mendorong anak untuk berpikir dari perspektif orang lain dan memperkuat kemampuan mereka untuk menyadari aktivitas mental mereka sendiri. Lingkungan belajar yang kolaboratif (misal, aktivitas kelompok) juga dapat memengaruhi perkembangan metakognisi anak secara positif. Pendidik memiliki peran penting dalam mendukung perkembangan metakognisi anak usia dini. Kegiatan metakognisi yang bermakna terjadi ketika guru menggunakan pemodelan dan teknik bertanya untuk mendorong anak merenungkan proses pembelajaran (Chen & McDunn, 2022).


Posting Komentar

0 Komentar