DEVINISI SAINS PADA ANAK USIA DINI

 


Kata sains dalam bahasa Inggris yaitu science. Adapun dalam bahasa Latin, sains adalah scientia. Arti dari keduanya tetap pengetahuan. Adapun dalam bahasa Jerman asal kata ilmu yakni wissenschaft yang bermakna pengetahuan yang terstruktur. Oleh karena itu, konsep ilmu adalah pengetahuan yang sistematis. Sains merupakan ilmu alam yang dimensinya meliputi bahan dan energi yang ada pada benda hidup dan tak hidup serta banyak dikaji terkait alam (Refinti, 2022). Sains merupakan pengetahuan teoritis yang diperoleh dengan cara tertentu, seperti observasi, percobaan, penalaran, atau perumusan teori. Sains memerlukan sikap ilmiah, seperti rasa ingin tahu, keterbukaan, dan kejujuran.

         Pada dasarnya, sains berarti berpikir, mencari tahu, dan melakukan penyelidikan terhadap dunia sekitar melalui pengamatan. Dengan demikian, sains merupakan cara berpikir manusia berpikir dan melihat dunia di sekitarnya. Sains merupakan disiplin ilmu yang mempelajari fakta/realitas yang berkaitan dengan fenomena alam. Pengkajian ini juga harus dilakukan secara terus-menerus. Sains sebagaimana dijelaskan oleh Kilmer dan Hoffman ialah pengetahuan yang meliputi berbagai fenomena tertentu serta bagaimana bentuk penyesuaian manusia terhadap alam sekitarnya (Hikmah, 2020).

         Hal tersebut juga senada dengan Quillan (Ainiyah, 2021) yang menjelaskan bahwa science is a way of thinking and acquiring knowledge that notice the problem, find out why, and suggest possible ideas and explanations. Find out through experimentation and observation, share the results. Kalimat tersebut berarti bahwa sains merupakan cara berpikir dan memperoleh pengetahuan yang melibatkan langkah-langkah seperti mengamati masalah, mencari tahu penyebabnya, dan mengusulkan ide dan penjelasan yang mungkin. Kemudian, melalui eksperimen dan observasi, kita mencari tahu lebih lanjut tentang masalah tersebut. Hasil temuan tersebut kemudian dapat dibagikan kepada orang lain. Dengan demikian, sains merupakan proses yang sistematis dan terarah untuk memahami dunia di sekitar kita. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membekali anak dengan pengetahuan tentang proses dan pengetahuan ilmiah. Sains menurut pendapat Sumaji (1998) disebut juga ilmu pengetahuan alam (IPA) yang mencakup ilmu astronomi, fisika, meteorologi, kimia, mineralogi, zoologi, fisiologi, dan geologi.

         Sains memiliki peran yang sangat penting dalam memberikan stimulasi yang kaya terhadap pancaindra anak usia dini. Melalui kegiatan sains, anak-anak diajak untuk menggunakan dan mengembangkan pancaindranya, yaitu penglihatan, pendengaran, penciuman, perasa, dan peraba. Misalnya, mereka dapat mengamati dengan mata mereka, mendengarkan dengan telinga mereka, serta mencium dan merasakan dengan hidung dan tangan mereka.

         Selain itu, sains juga membantu anak-anak usia dini untuk memahami hubungan sebab dan akibat. Dalam proses eksplorasi dan percobaan, mereka belajar untuk mengidentifikasi apa yang menyebabkan suatu peristiwa atau fenomena terjadi di sekitar mereka. Sains dapat mengembangkan kemampuan mereka dalam berpikir analitis, mengasah daya nalar, dan membantu mereka memahami konsep dasar dalam ilmu pengetahuan.

         Kegiatan sains juga memberikan kesempatan kepada anak-anak untuk belajar menggunakan alat ukur. Mereka diajarkan bagaimana mengukur dan mengamati objek dengan menggunakan alat-alat sederhana seperti penggaris, timbangan, termometer, atau mikroskop. Hal ini tidak hanya mengembangkan keterampilan motorik halus, tetapi juga membantu mereka memahami konsep pengukuran dan mengenali pentingnya penggunaan alat ukur dalam ilmu pengetahuan.

         Selanjutnya, melalui sains, anak-anak diajak untuk mendapatkan dan mengeksplorasi pengetahuan baru. Mereka diajarkan untuk menanya, mencari jawaban, dan menjelajahi berbagai aspek dunia di sekitar mereka. Dengan demikian, mereka terlibat dalam proses belajar yang aktif dan membangun rasa ingin tahu yang kuat. Mereka juga belajar untuk mengamati secara cermat, mengumpulkan data, menguji hipotesis, dan memberi hasil penemuan mereka dengan orang lain.

         Dengan adanya pengalaman sains ini, anak-anak usia dini akan dapat memahami peristiwa dan benda di sekitar mereka dengan lebih baik. Mereka belajar untuk menghubungkan konsep abstrak dengan pengalaman nyata, mengidentifikasi pola-pola, dan memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang dunia yang kompleks ini. Selain itu, melalui sains, anak-anak juga mengembangkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, serta kreativitas dalam mencari solusi terhadap pertanyaan dan tantangan yang mereka temui.

         Sains berkaitan erat dengan fenomena dan wujud nyata yang terjadi di lingkungan sekitar anak. Sains dapat lepas dari kehidupan sehari-hari, terutama dengan kehidupan anak yang menyebabkan anak mendapatkan peluang mempelajari dunia sains dengan mudah. Oleh karena itu, lingkungan alam sekitar dapat mengajarkan pelajaran ilmiah kepada anak-anak dengan mengamati perubahan lingkungan, baik pada benda hidup maupun benda mati. Misalnya, proses pertumbuhan makhluk hidup, yaknin tumbuhan dan hewan; campuran warna; gelembung sabun; fenomena alam sekitar, seperti gempa, banjir, tanah longsor, hujan, dan tsunami; serta proses pergantian siang dan malam (Ainiyah, 2021).

         Menurut penelitian Yilmaztekin dan Erdanli (dalam Handayani & Srihanyanti, 2018), pembahasan tentang bahan ajar sains atau pembelajaran sains bersumber dari lingkungan sekitar dan benda-benda yang menyajikan sains, seperti tanaman. Dalam pengenalan sains, guru menggunakan metode yang beragam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran sains yang dilakukan oleh guru meliputi metode lapangan, metode penelitian, metode proyek, metode pengamatan, dan metode percobaan atau eksperimen.

         Susanto (dalam Rahmi, 2019) juga menyatakan bahwa sains adalah usaha manusia yang tujuannya untuk memahami lingkungan alam melalui pancaindra yang dipandu dengan langkah-langkah yang diilustrasikan oleh argumen untuk dapat ditarik kesimpulan. Lebih lanjut, Susanto (dalam Rahmi, 2019) menambahkan bahwa sains adalah usaha manusia yang bertujuan dalam mengetahui lingkungan sekitar melalui pancaindra dengan terimbing dan berdasarkan tahapan yang diuraikan melalui pemikiran secara logis untuk sampai pada suatu kesimpulan. Terdapat langkah-langkah dalam mempelajari sains yakni menguraikan permasalahan, membuat hipotesis atau dugaan, membuat percobaan, mengumpulkan data, mendeskripsikan, dan menyimpulkan.

         Benda-benda seperti hewan, tumbuhan, air, tanah, udara, dan bahkan diri anak sendiri merupakan hal menyenangkan untuk dieksplorasi serta diamati. Benda-benda tersebut memudahkan pendidik dalam mengajarkan ilmu pengetahuan alam kepada anak karena benda-benda tersebut banyak terdapat di lingkungan sekitar anak dan berada pada kondisi yang nyata untuk diamati dan dipelajari. Keberadaan benda-benda tersebut dalam lingkungan sekitar anak memberikan pendidik kesempatan yang berharga untuk mengajarkan konsep-konsep sains secara konkret dan relevan.

         Melalui observasi dan eksplorasi benda-benda, anak-anak dapat langsung melihat dan merasakan keberadaan serta interaksi berbagai komponen alam. Misalnya, mereka dapat mengamati perilaku hewan, proses pertumbuhan tumbuhan, perubahan bentuk air, komposisi tanah, dan pengaruh udara terhadap kehidupan sehari-hari. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan pemahaman yang lebih mendalam tentang dunia alam yang nyata.

         Pentingnya benda-benda tersebut dalam pembelajaran sains bagi anak usia dini juga terletak pada fakta bahwa mereka dapat diamati dan dipelajari dalam kondisi yang nyata. Misalnya, anak dapat mengamati dan menyentuh tanaman yang tumbuh di kebun sekolah atau di sekitar rumah mereka. Mereka dapat melihat bagaimana serangga berinteraksi dengan tanaman, mengamati siklus air melalui percobaan sederhana dengan mengendapkan air dan wadah, atau menyelidiki berbagai jenis bahan yang ada di sekitar mereka.

         Selain itu, benda-benda tersebut juga memberikan kesempatan untuk mengintegrasikan pengalaman pribadi anak ke dalam pembelajaran sains. Misalnya, anak dapat mempelajari tentang sistem organ dalam tubuh mereka sendiri atau menyelidiki sifat-sifat air yang mereka gunakan sehari-hari. Hal ini membangun hubungan pribadi dan relevansi yang kuat antara anak dan materi yang dipelajari sehingga meningkatkan minat dan motivasi mereka dalam belajar sains.

         Pendidik juga dapat menggunakan benda-benda tersebut sebagai alat visual atau manipulatif dalam kegiatan pembelajaran. Misalnya, menggunakan model tumbuhan atau hewan yang dapat dipegang atau melibatkan eksperimen sederhana dengan menggunakan air, tanah, atau bahan-bahan lainnya. Hal ini membantu anak-anak memperoleh pemahaman konsep sains secara konkret dan melibatkan mereka secara aktif dalam proses pembelajaran.

         Secara keseluruhan, benda-benda seperti hewan, tumbuhan, air, tanah, udara, dan diri anak sendiri merupakan sumber daya yang penting dalam pembelajaran sains anak usia dini. Kehadiran benda-benda tersebut dalam lingkungan sekitar anak memberikan kesempatan nyata bagi mereka untuk mengamati, mengeksplorasi, dan mempelajari konsep-konsep ilmu pengetahuan alam secara konkret dan relevan. Pendekatan ini tidak hanya meningkatkan pemahaman anak terhadap dunia alam, tetapi juga membangun minat serta motivasi mereka dalam belajar sains.

Posting Komentar

0 Komentar