Sains untuk anak-anak menggunakan cara
berpikir yang sederhana. Sains bagi seorang anak bukanlah rangkaian kegiatan
untuk mengidentifikasi senyawa kompleks, sarang lebah yang terbengkalai, bibit
tanaman, atau mawar. Bagi mereka, sains mempelajari tentang berbagai masalah
yang timbul di sekitar manusia dalam kehidupan sehari-hari. Secara lebih
ringkas dapat dijelaskan bahwa sains bagi anak usia dini ialah salah satu wujud
pembelajaran terkait alam sekitar.
Bagi anak usia dini, sains tidak harus
memiliki sifat secara teknis, terperinci, dan mendetail. Sebab, anak usia 10
tahun ke bawah tidak mudah mempelajari suatu hal melalui metode bercerita serta
penjelasan. Pemberian landasan pengetahuan yang dapat memuaskan
keingintahuannya anak terkait berbagai hal yang terjadi di lingkungannya dapat
dijadikan salah satu alternatif mengajarkan sains kepada anak usia dini. Rasa
ingin tahu anak bersumber dari pertanyaan tentang kapan, di mana, bagaimana,
dan apa yang terjadi pada sekitar lingkungan mereka setiap harinya. Seperti
itulah makna sains yang sesungguhnya bagi anak (Sari, 2021).
Hakikat sains adalah sebagai produk,
sebagai proses, dan sebagai sikap. Sains dianggap produk sebab isinya merupakan
hasil kegiatan empiris serta analitis dari para ahli. Berbagai hukum, prinsip,
fakta, teori, dan konsep dapat digunakan dalam memahami ataupun menjelaskan
berbagai fenomena alam yang ada di dalamnya merupakan produk dari sains. Sains
sebagai proses tidak jauh berbeda dengan sains sebagai sikap. Sains sebagai
proses ialah seperangkat keterampilan yang mempelajari alam maupun fenomena
melalui cara tertentu sehingga dapat memperoleh pengetahuan dan memahami
fenomena tersebut. Proses sains berorientasi pada pembelajaran sehingga siswa
tidak hanya memahami konsep, tetapi dapat pula menjelaskan sesuatu. Sains
sebagai sikap adalah sikap ilmiah terhadap lingkungan alam yang dapat
memengaruhi pemikiran dan pemahaman siswa menjadi lebih baik sehingga dapat
dikembangkan pada saat siswa melakukan diskusi, eksperimen, simulasi, atau
kegiatan lapangan (Hikmah, 2020).
Makna sains bagi anak usia dini yakni
berbagai hal yang dapat memberikan stimulasi untuk meningkatkan keingintahuan,
minat, serta penyelesaian masalah anak melalui proses mengamati, berpikir, dan
menghubungkan konsep atau kejadian. Pengantar sains bagi anak prasekolah lebih
berfokus pada proses daripada produk. Aktivitas dan keterampilan proses sains
harus dilaksanakan dengan cara yang sederhana dan menyenangkan. Aktivitas sains
harus memberikan kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi beragam benda di sekitarnya,
baik berupa benda hidup maupun benda mati. Selain itu, dalam kegiatan sains,
anak belajar mengenal tanda-tanda dari sebuah peristiwa menggunakan fungsi
indranya secara optimal. Semakin banyak indra yang dilibatkan dalam proses
belajar, maka pemahaman anak terkait apa yang dipelajarinya akan meningkat pula
(Handayani & Srihanyanti, 2018).
Sujiono (dalam Rahmi, 2019)
mengutarakan bahwa anak usia dini yang melakukan kegiatan sains akan
mendapatkan stimulasi untuk mengembangkan aspek-aspek berikut.
a. Sosial.
Kemampuan dalam bekerja sama merupakan tanda dari berkembangnya keterampilan
sosial. Dalam pembelajaran sains, anak diberi kesempatan untuk bekerja sama.
Misalnya, mempersiapkan dan memanfaatkan alat dan bahan serta menyelidiki fakta
ketika melakukan eksperimen dan penelitian.
b. Emosional.
Belajar sains secara bersama-sama tidak hanya mengembangkan keterampilan sosial
yang dimiliki anak, tetapi juga membiasakan mereka untuk menghargai satu sama
lain. Misalnya, mengekspresikan emosi, baik dalam bentuk verbal maupun
nonverbal, ketika anak berhasil dalam suatu kegiatan. Dengan demikian, perasaan
anak akan senang, gembira, dan bangga akan hasil yang dicapainya.
c. Fisik.
Eksperimen dan aktivitas sains menawarkan peluang bagi anak agar dapat
mengembangkan keterampilan motorik mereka. Sebagai contoh, kemampuan motorik
halus anak dapat berkembang ketika ia melakukan berbagai eksperimen, seperti
mengenal gaya gravitasi dengan melempar benda, melipat, dan mengaduk air ke
dalam wadah.
d. Kreativitas.
Melakukan kegiatan sains dapat memberikan stimulasi bagi daya imajinasi anak
usia dini. Hal tersebut akan membuat anak terus-menerus berpikir serta berusaha
mencari tahu reaksi yang disebabkan oleh beragam objek di sekitarnya. Seperti
halnya ketika bereksperimen dengan bahan yang dapat larut dalam air. Anak akan
berpikir bagaimana ia akan melarutkannya, yaitu dengan cara mengaduknya atau
mencoboknya.
e. Kognitif.
Keterampilan kognitif mencakup kecakapan untuk mengingat dan memahami.
Mengklasifikasikan objek menurut tujuan dan fungsinya merupakan tahapan awal
bagi anak dalam mencatat nama benda dan mengetahui kegunaannya.
f. Kemampuan
berpikir logis. Melalui kegiatan sains, anak usia dini diajak untuk berpikir
secara logis dan analitis. Mereka belajar mengamati fenomena, membuat
hipotesis, mengumpulkan data, dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti
yang ada. Proses ini mengasah kemampuan berpikir kritis anak dan membantu
mereka mengembangkan kemampuan logika serta pemecahan masalah.
Kegiatan sains pada anak usia dini
dapat memberikan berbagai stimulasi yang penting dalam pengembangan berbagai
aspek kehidupan mereka. Melalui kegiatan sains, anak-anak tidak hanya belajar
tentang konsep dan prinsip-prinsip sains, tetapi juga banyak keterampilan yang
berkembang.
0 Komentar