Matematika memiliki
pengaruh yang besar dalam keseharian kehidupan manusia. Tanpa disadari,
mempelajari matematika terjadi secara alamiah dalam melakukan setiap aktivitas.
Begitu pun dengan anak usia dini saat bermain. Mereka akan menemukan, menguji,
serta menerapkan konsep matematika melalui kegiatan yang mereka lakukan.
Kegiatan matematika terjadi secara sederhana, seperti anak yang menghitung
berapa jumlah permen yang sudah dimakannya, menghitung berapa potong kue bolu
yang dipilihkan ibu untuk adik, atau memilih ember yang lebih besar yang dapat
memuat pasir yang lebih banyak.
Berdasarkan beberapa contoh kegiatan
matematika di atas, istilah matematika dalam KBBI adalah ilmu tentang bilangan,
hubungan antara bilangan, dan prosedur operasional yang digunakan dalam
penyelesaian masalah mengenai bilangan. Matematika berasal dari bahasa Yunani
"mathema" yang berarti pengetahuan atau pemikiran. Berdasarkan
asal kata tersebut, matematika dapat diartikan sebagai ilmu pengetahuan yang
didapat dengan berpikir (bernalar).
Menurut para ahli pendidikan
matematika, matematika adalah ilmu yang membahas pola atau keteraturan (pattern)
dan tingkatan (order) (Siagian, 2016). Materi dan konsep matematika yang
diajarkan harus disesuaikan dengan kemampuan dan tahap berpikir anak usia dini.
Materi matematika yang diajarkan juga harus dapat membangun rasa ingin tahu anak
secara alami tentang bentuk, ukuran, jumlah, dan konsep-konsep dasar lain dalam
matematika. Seorang pendidik atau pengajar harus peduli dan tertarik terhadap
apa yang anak katakan sehingga mendorong anak untuk menceritakan pengalaman dan
penemuan mereka. Penerimaan terhadap sejumlah kegiatan matematika yang
dilakukan anak dapat mendorong ke- percayaan dirinya untuk tetap berpikir,
bertanya, dan berbagi pengalaman tentang berbagai hal yang dialaminya
(Wardhani, 2017).
Pendidik
yang dapat memahami perkembangan anak dan mengajarkan konsep matematika dengan
benar akan menghindari anak dari ketakutan dengan matematika sejak awal.
Pendidik dapat membantu anak belajar matematika secara alami melalui kegiatan
bermain. Pengetahuan dan keterampilan pada permainan matematika diberikan
secara bertahap menurut tingkat kesukarannya. Misalnya, mulai dari tingkat
konkret sampai tingkat abstrak, mulai dari tingkat yang mudah sampai pada
tingkat sukar, dan mulai dari sederhana sampai yang lebih kompleks. Permainan
matematika akan berhasil jika anak-anak diberikan kesempatan berpartisipasi dan
dirangsang untuk menyelesaikan masalah-masalahnya sendiri.
Matematika sebaiknya diperkenalkan dan diajarkan kepada anak dengan cara-cara yang menarik dan menggunakan contoh-contoh yang konkret sehingga anak dapat dengan mudah memahami. Bermain merupakan salah satu metode yang paling ampuh dalam mengajarkan matematika. Menurut Montessori dalam Sudono dengan bermain anak akan memiliki kemampuan untuk memahami konsep dan pengertian secara alamiah tanpa terpaksa. Sejalan dengan itu, permainan matematika pada anak usia dini adalah kegiatan belajar mengenai konsep matematika melalui aktivitas belajar melalui bermain dalam kehidupan sehari-hari dan bersifat alamiah (Sujiono, 2019).
Manfaat mempelajari matematika terdiri atas membangun kemampuan untuk: 1) mengkaji, menduga, dan memberi alasan secara logis; 2) menyelesaikan soal-soal yang tidak rutin; 3) mengomunikasikan tentang dan melalui matematika; 4) mengaitkan ide-ide di dalam matematika dan kegiatan intelektual lainnya; serta 5) mengembangkan percaya diri, watak, atau karakter untuk mencari, mengevaluasi, dan menggunakan informasi kuantitatif dalam menyelesaikan masalah dan membuat keputusan. Hal- hal yang dapat menumbuhkan kesadaran tentang manfaat mempelajari matematika adalah ketekunan/keuletan/minat (interest), keingintahuan (curiosity), dan daya temu atau daya cipta (investiness).
Berikut ini adalah teori-teori belajar matematika (Muhsetyo, 2021).
- Teori Thorndike. Teori Thorndike disebut teori penyerapan, yaitu teori yang memandang peserta didik sebagai selembar kertas putih, penerima pengetahuan yang siap menerima pengetahuan secara pasif. Pada prinsipnya, teori Thorndike menekankan banyak memberi praktik dan latihan kepada peserta didik agar konsep dan prosedur dapat mereka kuasai dengan baik.
- Teori Ausubel. Teori makna (meaning theory) dari Ausubel (Brownell dan Chazal) mengemukakan pentingnya pembelajaran bermakna dalam mengajarkan matematika. Kebermaknaan pembelajaran akan membuat kegiatan belajar lebih menarik, lebih bermanfaat, dan lebih menantang sehingga konsep matematika akan lebih mudah dipahami dan lebih tahan lama diingat oleh peserta didik.
- Teori Jean Piaget. Teori perkembangan intelektual dari Jean Piaget menyatakan bahwa kemampuan intelektual anak berkembang secara bertingkat atau bertahap, yaitu: a) sensorimotor, yaitu pada usia 0-2 tahun; b) praoperasional, yaitu pada usia 2-7 tahun; c) operasional konkret, yaitu pada usia 7-11 tahun; dan d) operasional ≥ 11 tahun. Teori ini merekomendasikan pendidik untuk mengamati tingkatan perkem- bangan intelektual peserta didik sebelum mempelajari matematika.
- Teori Vygotsky. Teori Vygotsky mengembangkan model konstruktivistik yaitu belajar mandiri dari Piaget menjadi belajar kelompok. Dalam membangun sendiri pengetahuannya, peserta didik dapat memperoleh pengetahuan melalui kegiatan yang beranekaragam dengan guru sebagai fasilitator.
- Teori Jerome Bruner. Teori Bruner berkaitan dengan perkembangan mental, yaitu kemampuan mental anak berkembang secara bertahap, mulai dari sederhana sampai rumit, mulai dari mudah sampai sulit, dan mulai dari nyata atau konkret sampai abstrak. Secara lebih jelas, Bruner menyebutkan tiga tingkatan yang perlu diperhatikan dalam mengakomodasikan keadaan peserta didik, yaitu: a) enactive (manipulasi objek langsung); b) iconic (manipulasi objek tidak langsung); dan c) symbolic (manipulasi simbol).

0 Komentar