Ada beberapa macam
metode pembelajaran kognitif yang dapat digunakan dalam pembelajaran anak usia
dini. Metode-metode ini dirancang khusus untuk memfasilitasi perkembangan
kognitif anak dan membantu mereka memperoleh pemahaman yang lebih dalam tentang
dunia di sekitar mereka. Dengan menggabungkan interaksi aktif, penggunaan
stimulus yang tepat, dan lingkungan yang mendukung, metode pembelajaran
kognitif dapat mengoptimalkan kemampuan anak dalam memproses informasi,
berpikir kritis, dan memecahkan masalah.
1. Metode Bermain
Aktivitas bermain
dapat meningkatkan kemampuan kognitif anak. Keterlibatan kognitif dalam
kegiatan bermain mulai dari kemampuan kognitif secara sederhana sampai
kemampuan kognitif yang lebih tinggi. Berikut ini adalah beberapa jenis metode
bermain.
a. Bermain
konstruktif. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, anak melakukan permainan
konstruktif. Kegiatan bermain konstruktif contohnya dilakukan anak dengan
menyusun balok-balok kecil menjadi suatu bangunan, seperti rumah atau menara.
Pada waktu yang sama, anak mengoperasikan kemampuan kognitifnya untuk
memikirkan agar baloknya tidak jatuh dan memilih balok-balok yang tepat untuk
dijadikan bangunan sesuai dengan yang diinginkannya.
b. Bermain
ilmu alam. Jenis kegiatan bermain ini dapat mengembangkan kemampuan dasar alam
atau sains anak. Oleh karena itu, permainan ini harus dilakukan dengan kegiatan
yang berkaitan dengan aktivitas kognitif, seperti melakukan pengamatan,
penyelidikan, penemuan, serta pengklasifikasian objek dan peristiwa yang
berkaitan dengan alam.
c. Bermain
matematika. Permainan matematika juga menjadi salah satu bentuk permainan yang
melibatkan aktivitas kognitif, mulai dari tingkat sederhana sampai tingkat
yang lebih kompleks. Kegiatan bermain matematika dapat berupa menyebutkan
angka, mencocokkan angka dengan jumlah benda yang sesuai dengan angka yang
dimaksud, dan sebagainya.
d. Bermain
drama. Bermain drama merupakan refleksi dari pengembangan kemampuan kognitif
anak usia dini yang ditekankan dalam imajinasi atau fantasi. Aktivitas dalam
bermain drama ini sangat berguna dalam pengembangan kreativitas anak.
e. Bermain
sebagai latihan koordinasi gerakan. Walaupun kegiatan bermain ini lebih
ditekankan pada pengembangan koordinasi gerakan motorik, kegiatan bermain ini
secara bersamaan juga mengembangkan kemampuan kognitif anak. Keterkaitan
antara gerak motorik dan aktivitas kognitif dapat dilihat pada waktu anak
memperkirakan sesuatu, misalnya apakah tangga yang akan dipanjat tinggi atau
tidak. Kegiatan tersebut membantu anak untuk memperkirakan batas kemampuannya
dalam memanjat.
f. Bermain
formal. Bermain formal dilakukan anak pada waktu ia melakukan permainan yang
bersifat pertandingan atau perlombaan. Kegiatan bermain ini telah memiliki
aturan, struktur, dan tujuan. Kegiatan bermain formal dalam pengembangan
kognitif anak terjadi pada waktu anak bermain kelereng, sepak bola, dan
sebagainya. Anak usia dini sudah dapat melakukan aktivitas bermain ini walaupun
pada tahap permulaan (Jamaris, 2006).
2. Metode Karyawisata
Metode karyawisata
merupakan salah satu metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara berkunjung.
Metode karyawisata dapat berupa mengamati dunia sesuai dengan kenyataan yang
ada secara langsung, baik yang meliputi manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan, alat dan
bahan, maupun benda-benda lainnya. Pengamatan secara langsung dapat menjadi
salah satu alternatif bagi anak untuk memperoleh kesan yang sesuai dengan
pengamatannya dan dapat mengembangkan kemampuan kognitifnya. Pengamatan ini
diperoleh melalui pancaindra yakni mata, telinga, lidah, hidung, dan tangan.
Metode
karyawisata akan membantu anak memahami kehidupan nyata dalam lingkungan
sekitar mereka. Anak yang menggunakan kelima indranya untuk mengamati dunia
nyata secara langsung dalam kegiatan karyawisata dapat mengembangkan
pengetahuan dan memperluas wawasan berupa: a) setiap benda itu mempunyai
sifat-sifat yang dapat dilihat, diendus, didengar, dirasakan, diraba, serta
dideskripsikan; b) benda-benda itu dapat dibandingkan satu dengan yang lain
berdasarkan persamaan dan perbedaan yang dapat dilihat, diendus, didengar,
dirasakan, dan diraba; dan c) benda-benda itu dapat digolongkan berdasarkan
kesamaan sifat yang dapat dilihat, diendus, dirasakan, dan diraba
(Moeslichatoen, 2004). Melalui karyawisata, anak mendapat kesempatan yang luas
untuk melakukan kegiatan dan menghadapi berbagai benda/orang yang dapat menarik
perhatiannya, memenuhi kebutuhan rasa ingin tahunya, dan mengadakan kajian
terhadap fakta yang dihadapi secara langsung. Karyawisata memberi kesempatan
anak untuk me- lihat, mendengar, mengendus, mengecap, meraba, dan melakukan
interaksi dengan sekitarnya. Melalui interaksi itulah anak akan mendapatkan
pengetahuan yang akan meningkatkan perkembangan kognitif. Berbagai macam
pengalaman yang diperoleh dan menarik perhatiannya akan mendorong keingintahuan
anak untuk mengkaji lebih lanjut.
Berikut
ini adalah beberapa sasaran yang menjadi karyawisata sesuai dengan minat dari
kebutuhan anak (Moeslichatoen, 2004).
a. Dunia
binatang yang meliputi: (1) peternakan, seperti domba, sapi, kuda, kelinci,
ayam, dan bebek; (2) perikanan, seperti udang, bandeng, lele, dan mujair; (3)
kebun binatang; (4) akuarium; (5) taman burung; serta (6) museum binatang dan
burung. Kunjungan ke dunia binatang akan banyak memberikan pengetahuan dan
pengalaman anak bersama hewan. Anak akan mendapatkan pengetahuan tentang
macam-macam hewan, jenis-jenis tempat tinggal hewan, perkembangbiakan hewan,
jenis hewan liar, jenis hewan peliharaan, dan jenis hewan buas. Anak juga akan
mendapatkan pengetahuan bagaimana cara memberi makan hewan dan bagaimana cara
menyayangi hewan. Melalui peng- alaman, anak akan dapat mengenal warna, suara,
bau, serta sentuhan terhadap berbagai macam binatang tersebut dan mengaitkannya
dengan kehidupan sehari-hari.
b. Dunia
tanaman yang meliputi: (1) perkebunan, seperti kebun buah- buahan dan sawah;
(2) kebun raya yang ditanami bermacam-macam pohon-pohonan, perdu, dan rumput;
(3) taman bunga, seperti mawar, melati, anggrek, aster, dan gladiol; (4) taman
kota; (5) hutan wisata; serta (6) daerah pertanian. Kunjungan ke dunia tanaman
memberikan pengetahuan kepada anak tentang macam-macam tanaman,
perkembangbiakan tanaman, serta manfaat tanaman bagi kehidupan makluk hidup
yaitu manusia dan hewan.
c. Dunia
kerja yang, seperti: (1) guru; (2) dokter; (3) polisi; (4) tukang pos; (5)
tukang sampah; (6) tukang sayur/buah; (7) pedagang; (8) pemusik, penyanyi,
penari, atau pemain sandiwara; (9) tukang pangkas; (10) pramusaji; dan (11)
petugas pemadam kebakaran. Kunjungan ke dunia kerja akan memberikan pengetahuan
kepada anak mengenai macam-macam pekerjaan, bagaimana cara melakukan pekerjaan,
peralatan-peralatan yang digunakan dalam bekerja, dan siapa yang memerlukan
jasa pekerjaan tersebut. Melalui pengalaman, anak dapat memperkaya pengetahuan,
wawasan dan perbendaharaan kata serta dapat mengem- bangkan minat anak pada
pekerjaan yang disukainya.
d. Kehidupan manusia, seperti: (1) kehidupan di kota; (2) kehidupan di desa; (3) kehidupan di pesisir (pantai); dan (4) kehidupan di pegunungan. Dengan memperoleh langsung mengenai kehidupan manusia, anak akan memperkaya pengetahuan, wawasan, dan perbendaharaan bahasan anak tentang kehidupan manusia. Perbendaharaaan bahasa anak didapatkan dari berbagai ciri kepribadian, kebiasaan, pola pergaulan, mata pencarian, dan sebagainya.
3. Metode Bercerita
Metode bercerita
merupakan salah satu cara belajar anak dengan mem- bawakan cerita kepada anak
secara lisan. Dalam pengembangan kognitif anak, bercerita merupakan salah satu
metode yang tepat untuk digunakan karena salah satu tujuannya adalah
menstimulasi daya imajinasi dan kreati- vitas anak, memperkuat daya ingat anak,
dan membuka alam pemikiran anak sehingga anak menjadi lebih kritis (Khadijah
and Amelia, 2020). Cerita yang dibawakan sebaiknya menarik dan mengundang
perhatian anak, tetapi tidak lepas dari tujuan pendidikan dan pencapaian
kognitif anak. Bila isi cerita dikaitkan dengan dunia kehidupan anak dan
menggunakan bahasa yang mudah dipahami, anak dapat memahami isi cerita dan
mendengarkan- nya dengan penuh perhatian. Adapun teknik-teknik dalam bercerita
kepada anak, yaitu: a) membacakannya langsung dari buku cerita; b) bercerita
dengan menggunakan ilustrasi gambar dari buku; c) menceritakan dongeng; d)
bercerita dengan menggunakan papan flanel; e) bercerita dengan meng- gunakan
media boneka; f) dramatisasi suatu cerita; dan g) bercerita sambil memainkan
jari-jari tangan (Moeslichatoen, 2004).
Menurut
Dhien (2009), berdasarkan jenis media yang digunakan, metode bercerita dibagi
menjadi beberapa bentuk, yaitu sebagai berikut.
a.
Bercerita Tanpa Alat Peraga
Bercerita tanpa alat
peraga yaitu kegiatan bercerita yang dilakukan oleh guru atau orang tua tanpa
menggunakan media atau alat peraga yang diperlihatkan pada anak. Bercerita
tanpa alat peraga adalah bentuk cerita yang mengandalkan kemampuan pencerita
dengan menggunakan mimik (ekspresi muka), pantomim (gerak tubuh), dan vokal
pencerita sehingga yang mendengarkan dapat menghidupkan kembali dalam fantasi
dan imajinasinya. Guru harus memperhatikan ekspresi wajah, gerak-gerik tubuh,
dan suara guru harus dapat membantu fantasi anak untuk mengkhayalkan hal-hal
yang diceritakan guru.
b.
Bercerita dangan Alat Peraga
Metode bercerita
dengan alat peraga yaitu metode bercerita menggunakan media atau alat pendukung
untuk memperjelas penuturan cerita yang akan disampaikan. Bercerita dengan
menggunakan alat peraga adalah bentuk bercerita yang mempergunakan alat peraga
bantu untuk menghidupkan cerita. Fungsi alat peraga ini untuk menghidupkan
fantasi dan imajinasi sehingga terarah sesuai dengan yang diharapkan si
pencerita. Bentuk bercerita dengan alat peraga terbagi menjadi dua, yaitu alat
peraga langsung dan alat peraga tidak langsung. Alat peraga langsung, yaitu
menggunakan benda asli atau benda sebenarnya (misalnya, kelinci, kembang,
piring) agar anak dapat memahami isi cerita dan dapat melihat langsung
ciri-ciri serta kegunaan dari alat tersebut. Alat peraga tak langsung yaitu
menggunakan benda-benda yang bukan alat sebenarnya. Bercerita dengan alat
peraga tidak langsung dapat dipraktikkan dengan cara sebagai berikut.
1)
Bercerita dengan Benda-Benda Tiruan
Guru dapat menggunakan
benda-benda tiruan sebagai alat peraga (misalnya binatang tiruan, buah-buahan
tiruan, atau sayuran tiruan). Benda-benda tiruan tersebut hendaknya mempunyai
proporsi bentuk dan warna yang sesuai dengan aslinya.
2)
Bercerita dengan Menggunakan Gambar-Gambar
Guru menggunakan
gambar sebagai alat peraga dapat berupa gambar lepas, gambar dalam buku, atau
gambar seri yang berjumlah mulai dari dua sampai enam gambar yang melukiskan
jalannya cerita.
3)
Bercerita dengan Menggunakan Papan Flanel
Guru menggunakan papan flanel untuk
menempelkan potongan- potongan gambar yang akan disajikan dalam suatu cerita.
Menurut Tarigan (2008), terdapat
beberapa langkah yang harus dilaku- kan dalam pelaksanaan metode bercerita
yaitu sebagai berikut.
a.
Menentukan Topik Cerita yang Menarik
Topik merupakan pokok
pikiran atau pokok pembicaraan. Pokok pikiran dalam cerita harus menarik agar
pendengar tertarik dan senang dalam men- dengarkan cerita. Contoh topik cerita
yaitu pendidikan, sumber daya alam, kejujuran, persahabatan, dan sebagainya.
b.
Menyusun Kerangka Cerita dengan Mengumpulkan
Bahan-Bahan
Dalam menyusun
kerangka cerita untuk meningkatkan kemampuan kognitif anak, guru sebaiknya
mengumpulkan bahan-bahan dari buku, majalah, koran, makalah, dan sebagainya
untuk memudahkan dalam merangkai suatu cerita. Misalnya, kerangka cerita dengan
topik persahabatan yaitu: 1) ada dua orang bersahabat; 2) dua orang sahabat
berselisih paham; serta 3) penyelesaian masalah dan kembali bersahabat.
c.
Mengembangkan Kerangka Cerita
Kerangka cerita yang
sudah dibuat kemudian dikembangkan sesuai dengan pokok-pokok cerita. Contoh
pengembangan kerangka cerita yaitu ada dua orang bersahabat sejak lama. Namanya
Gina dan Erie. Mereka saling membantu satu sama lain. Saat Gina sedang mengalami
kesulitan, Erie selalu membantu dan menghibur Gina. Begitupun sebaliknya, saat
Erie sedang mengalami kesulitan, Gina selalu membantu dan menghibur.
d.
Menyusun Teks Cerita
Penyusunan teks cerita
dilakukan dengan menggabungkan poin-poin dari kerangka cerita yang telah
dikembangkan dengan memperhatikan keterkaitan antarpoin. Contohnya yaitu
menggabungkan pengembangan kerangka cerita poin satu sampai tiga yang telah
dijelaskan sehingga menjadi sebuah teks cerita yang baik.
Metode bercerita memiliki beberapa kelebihan sebagai berikut.
- Membangkitkan semangat anak. Anak akan senantiasa merenungkan makna dan mengikuti berbagai situasi cerita sehingga anak terpengaruh oleh tokoh dan topik dari cerita tersebut.
- Mengarahkan semua emosi sehingga menyatu pada satu kesimpulan yang terjadi pada akhir cerita.
- Memikat anak. Cerita mengundang anak untuk mengikuti peristiwanya dan merenungkan maknanya.
- Memengaruhi emosi anak. Emosi anak dapat berubah, seperti takut, perasaan diawasi, rela, senang, sungkan, atau benci sehingga bergelora dalam lipatan cerita.
Selain memiliki kelebihan, metode bercerita juga memiliki kekurangan sebagai berikut.
- Bersifat monolog dan dapat menjenuhkan anak didik.
- Pemahaman anak akan menjadi sulit ketika kisah terlalu rumit dan berbelit.
- Sering terjadi ketidakselarasan isi cerita dengan konteks yang dimaksud sehingga pencapaian tujuan sulit diwujudkan.
4. Metode Eksperimen
Metode belajar
eksperimen yaitu cara mengajar dengan melakukan percobaan. Dalam hal ini,
setiap anak mendapatkan pengetahuannya sendiri melalui usahanya sendiri.
Terdapat beberapa tujuan pelaksanaan pembelajaran eksperimen. Pertama,
sebagai perkenalan. Anak diajak untuk ber- kenalan dengan alat, bahan, serta
cara kerja alat tersebut. Di samping itu, anak diajak untuk mengenal suatu
konsep dengan berdasarkan alat kerja tersebut. Kedua, sebagai kejutan.
Tujuan dari kejutan di sini adalah dengan bereksperimen anak akan memperoleh
pengalaman kerja langsung, baik dari alat maupun reaksi yang terjadi dalam
sebuah percobaan. Ketiga, sebagai usaha memahami suatu konsep agar anak
lebih mudah untuk menerima konsep. Dengan pengalaman langsung, pengetahuan yang
diperoleh anak akan melekat lebih lama. Keempat, sebagai model. Maksud-
nya yaitu guru melaksanakan suatu usaha untuk mempermudah proses
pembelajarannya dengan melakukan pendekatan-pendekatan yang memungkinkan anak
lebih memahami konsep yang diajarkan. Kelima, sebagai usaha pengulangan.
Melalui eksperimen, guru mengulangi teori yang telah disampaikan dan konsep
yang telah diajarkan akan lebih konkret dalam suatu percobaan.
Kegiatan eksperimen bagi anak usia dini
bukanlah percobaan yang sangat serius. Selama belajar sambil bermain, anak akan
mendapatkan pengalaman baru, memanipulasi bahan dan alat, serta berinteraksi
dan bersosialisasi dengan orang lain atau teman sekelompok. Bermain adalah awal
dari semua fungsi kognitif selanjutnya (Sujiono, 2009). Beberapa eksperimen
sederhana yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kemam- puan kognitif anak
adalah sebagai berikut.
a. Menggabungkan
warna. Melalui percobaan ini, anak akan mengenali beberapa warna primer (merah,
biru, dan kuning) dan warna sekunder (campuran dari berbagai warna primer).
Misalnya, warna biru dicampur dengan warna kuning akan berubah menjadi warna
hijau.
b. Mengenal
benda cair. Anak akan senang jika diajak bermain air. Anak dapat mengetahui
sifat-sifat air salah satunya dengan menempatkan air ke dalam berbagai bentuk
wadah, karena sifat air menempati ruang dengan bentuknya. Guru juga dapat
mengajarkan perubahan bentuk zat cair, dari cair ke padat (beku) atau padat ke
air (cair).
c. Rahasia
benda mengapung, tenggelam, dan melayang. Dengan bereksperimen, anak dapat
mengetahui kenapa kapal bisa terapung di lautan, batu bisa tenggelam ketika di
lempar ke air, dan benda lainnya yang melayang. Guru juga dapat melakukan
eksperimen menggunakan telur. Bagaimana telur yang dimasukkan ke dalam gelas
yang berisi air tawar dan air yang diisi garam.
Adapun beberapa
manfaat mengimplementasikan metode eksperimen pada anak, yaitu; a) meningkatkan
rasa ingin tahu anak; b) sebagai ruang untuk bereksplorasi, c) belajar
urutan, sistematis, dan aturan; d) melatih keterampilan anak; serta e)
belajar mengelola emosi.
0 Komentar