TEORI KOGNITIF MENURUT BENJAMIN S. BLOOM

 


Pengertian Taksonomi Menuruut Benjamin S. Bloom


Benjamin Samuel Bloom, 21 Februari 1913-13 September 1999, adalah seorang psikolog pendidikan dari Amerika Serikat. Kontribusi utama Bloom terdapat dalam penyusunan taksonomi tujuan pendidikan dan pembuatan teori belajar tuntas. Ia menerima gelar sarjana dan magister dari Pennsylvania State University pada tahun 1935 dan gelar doktor dalam bidang pendidikan dari University of Chicago pada bulan Maret 1942.

Konsep Taksonomi diartikan sebagai alat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan (Sutisna & Laiya, 2020). Krathwohl menyebutkan bahwa taksonomi digunakan untuk mendefinisikan dan membedakan berbagai tingkat kognisi manusia yaitu berpikir, belajar, dan memahami. Beberapa peneliti mengatakan bahwa taksonomi adalah kerangka kerja untuk mengklasifikasikan pernyataan tentang apa yang diharapkan guru atau yang ingin siswa pelajari sebagai hasil pengajaran. Berdasarkan beberapa deskripsi tentang taksonomi dalam konteks pendidikan, dapat disimpulkan bahwa taksonomi pendidikan yaitu pengklasifikasian tujuan pendidikan untuk membedakan tingkat kognisi manusia dengan harapan dapat menjadi kerangka kerja dalam menyusun pernyataan yang memuat apa yang diharapkan guru atau yang ingin siswa pelajari.

Taksonomi Bloom adalah model pengklasifikasian pemikiran bertingkat menurut enam tingkat kompleksitas kognitif. Setiap domain memiliki susunan atau disusun secara hierarki, mulai dari yang sederhana sampai ke arah yang lebih kompleks. Selama bertahun-tahun, level tersebut sering digambarkan sebagai tangga, membuat banyak guru mendorong siswanya untuk "naik ke (tingkat) pemikiran yang lebih tinggi. Tiga tingkat terendah adalah pengetahuan, pemahaman, dan penerapan. Tiga level tertinggi adalah analisis, sintesis, dan evaluasi. Dengan kata lain, seorang siswa yang telah sampai di tingkat 'aplikasi' telah menguasai juga materi di tingkat 'pengetahuan' dan 'pemahaman' (Akademi Keguruan UW, 2003). Seseorang dapat dengan mudah melihat bagaimana pengaturan ini mengarah pada pembagian alami dari pemikiran tingkat rendah dan tinggi. Berikut ini adalah gambar hierarki klasifikasi tersebut.

Perubahan pada Enam kategori Utama Bloom 

Meskipun demikian, satu revisi baru-baru ini (dirancang oleh salah satu editor taksonomi asli bersama dengan mantan siswa Bloom) patut mendapat perhatian khusus. Selama tahun 1990-an, seorang mantan siswa Bloom Lorin Anderson, memimpin pertemuan baru dengan tujuan memperbarui taksonomi serta memiliki harapan untuk menambah relevansi bagi siswa dan guru abad ke-21. Pertemuan ini dihadiri oleh setiap perwakilan dari tiga organisasi, yaitu psikolog kognitif, ahli teori kurikulum dan peneliti instruksional, serta spesialis pengujian dan penilaian (Anderson et. al., 2001). Perubahan terjadi dalam tiga kategori besar, yaitu terminologi, struktur, dan penekanan. Perubahan terminologi antara kedua versi tersebut mungkin merupakan perbedaan yang paling jelas dan juga dapat menyebabkan kebingungan yang paling besar. Pada dasarnya, enam kategori utama Bloom diubah dari bentuk kata benda menjadi kata kerja. Level terendah diubah penyebutannya, yaitu "pengetahuan" menjadi "mengingat". Perubahan lainnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.


DIMENSI PROSES KOGNITIF

(TAKSONOMI BLOOM)


Berikut ini adalah definisi dari setiap istilah baru.

1.   Mengingat/remembering, yaitu mengambil, mengenali, dan mengingat Kembali pengetahuan yang relevan dari memori jangka pajang.

2.   Memahami/understanding, yaitu membangun makna dari pesan lisan, tertulis, dan grafis dengan cara menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, meringkas, menyimpulkan, membandingkan, dan menjelaskan.

3.   Menerapkan/applying, yaitu melaksanakan atau menggunakan prosedur dengan cara mengeksekusi atau menerapkan.

4. Menganalisis/analysing, yaitu memecah materi menjadi bagian-bagian penyusunnya serta menentukan bagaimana bagian-bagian itu berhubungan satu sama lain dengan keseluruhan struktur atau tujuan melalui pembedaan, pengorganisasian, dan pemberian atribut.

5.  Mengevaluasi/evaluating, yaitu membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar melalui pengecekan dan kritik.

6.    Menciptakan/creating, yaitu menyatukan elemen untuk membentuk keseluruhan yang koheren atau fungsional. Reorganisasi elemen men- jadi pola atau struktur baru dengan cara pembangkitan, perencanaan, atau produksi (Anderson et. al., 2001).

 

Seperti yang telah diketahui, skema yang terkenal dan diterapkan secara luas ini mengisi kekosongan dan memberikan salah satu klasifikasi sistematis pertama dari proses berpikir dan belajar kepada para pendidik untuk anak. Kerangka hierarki kumulatif terdiri atas enam kategori. Masing- masing kategori membutuhkan keterampilan dari kategori yang sebelumnya. Tiap tingkatan kategori harus lebih kompleks dari kategori sebelumnya, tetapi tetap mudah dipahami. Karena kebutuhan belajar peserta didik, guru harus mengukur kemampuan mereka. Untuk melakukannya secara akurat, diperlukan klasifikasi tingkat perilaku intelektual yang penting dalam pembelajaran. Taksonomi Bloom menyediakan alat ukur untuk berpikir.

Dengan perubahan dramatis dalam masyarakat selama lima dekade terakhir, taksonomi Bloom yang direvisi menyediakan alat yang lebih kuat untuk memenuhi kebutuhan guru saat ini. Struktur matriks tabel taksonomi yang direvisi memberikan representasi visual yang jelas dan ringkas (Krathwohl, 2002) tentang keselarasan antara standar serta tujuan, sasaran, produk, dan aktivitas pendidikan. Guru saat ini harus membuat keputusan sulit tentang bagaimana menghabiskan waktu di kelas mereka. Penyelarasan tujuan pendidikan yang jelas dengan standar lokal, negara bagian, dan nasional adalah suatu keharusan. Seperti potongan teka-teki besar, semuanya harus pas. Tabel taksonomi Bloom yang sudah direvisi mengklarifikasi kecocokan "pertanyaan penting" serta tujuan atau sasaran setiap rencana pelajaran.

Hal yang diharapkan guru atau ingin dipelajari siswa merupakan ide dasar yang melandasi perumusan tujuan pembelajaran atau bahkan pengembangan kurikulum. Tujuan pembelajaran dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama, yaitu berpikir (thinking), sikap (attitudes), dan keterampilan fisik (physical skills). Fokus ketiga area ini adalah merepresentasikan tiga domain belajar (domain learning), yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga domain ini dalam praktiknya tidak berjalan secara terpisah, tetapi ada irisan-irisan satu sama lain di ketiga domain tersebut (Moore, 2005).



Implementasi Teori Kognitif Benjamin S. Bloom di PAUD

Implementasi teori kognitif dari Benjamin S. Bloom dapat digambarkan seperti penjelasan di bawah ini.

a.  Mengingat. Level ini merujuk pada kemampuan peserta didik untuk mengingat-ingat kembali (recall) apa yang disampaikan oleh pendidiknya. Peserta didik bisa menyampaikan informasi/pengetahuan sederhana secara verbal atau tulisan. Misalnya, pada kegiatan penutup, di tahap recalling, peserta didik ditanyakan kegiatan yang telah dilakukan anak dalam satu hari di sekolah atau mengingat tentang tema yang dipelajari. Selain itu, pendidik bisa mengajak peserta didik mengingat topik sederhana seperti, tentang nama orang tua, alamat, nama tempat, dan nama hewan atau buah yang disenangi.

b.    Memahami. Level ini merujuk pada kemampuan peserta didik untuk memahami, menjabarkan, atau menegaskan informasi yang masuk, seperti menafsirkan dengan bahasa sendiri. Misalnya, setelah mempelajari tema tentang binatang peliharaan, peserta didik dapat diminta untuk menceritakan pengetahuan mereka tentang jenis-jenis binatang, tempat hidupnya, ciri-cirinya, dan jenis makanannya. Peserta didik dapat menjelaskan ide atau konsep, membuat ringkasan, dan melakukan interpretasi sederhana terhadap data/informasi dengan kata-kata mereka sendiri.

c.   Mengaplikasikan. Dalam mengaplikasikan sesuatu, peserta didik memerlukan informasi yang dapat dipelajari untuk digunakan dalam mencapai solusi atau menyelesaikan tugas. Misalnya, setelah mempelajari tata cara mencuci tangan, peserta didik diminta praktik langsung untuk cuci tangan dengan tertib dan benar. Contoh lainnya yaitu setelah mempelajari tentang tema binatang peliharaan dengan materi cara merawat binatang, peserta didik diajak praktik langsung untuk memberi makan binatang peliharaan.

d.  Menganalisis. Level ini merujuk pada kemampuan anak didik dalam menguraikan, membandingkan, mengorganisir, menyusun ulang, mengubah struktur, membuat kerangka, menyusun outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, mengelompokkan, menjelaskan cara kerja sesuatu, menganalisis hubungan antarbagian, dan mengenali motif atau struktur organisasi. Misalnya, pada tema binatang peliharaan, pendidik membawa miniatur binatang peliharaan dan meminta peserta didik untuk mengelompokkan binatang berdasarkan jumlah kakinya, jenis makanannya, tempat hidupnya, dan lain-lain.

e.   Mengevaluasi. Level ini merujuk pada kemampuan peserta didik memberikan justifikasi terhadap sesuatu yang dievaluasi. Ini berarti, peserta didik dengan sendirinya memiliki berbagai bahan pertimbangan yang diperlukan untuk memberi nilai. Misalnya, pada saat mempelajari tentang tema binatang peliharaan, pendidik menyajikan gambar salah satu binatang peliharaan yang telah dihilangkan beberapa bagian anggota tubuh. Selanjutnya, peserta didik diminta untuk mengevaluasi bagian anggota tubuh yang hilang atau tidak ada.

f.   Mencipta. Level ini merujuk pada kemampuan peserta didik untuk memadukan berbagai macam informasi dan mengembangkannya sehingga terjadi sesuatu bentuk yang baru. Selain itu, level ini juga ditunjukkan dengan kemampuan peserta didik dalam merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membarui, menyempurnakan, memperkuat, memperindah, dan mengubah. Misalnya, ketika tema binatang peliharaan telah dipelajari, pendidik menyiapkan bahan-bahan loose part dan meminta peserta didik untuk berkreasi membuat binatang peliharaan yang disenangi atau membuat kandang binatang peliharaan sesuai ide dan imajinasi anak.




Posting Komentar

0 Komentar