Pengertian Taksonomi Menuruut Benjamin S. Bloom
Konsep
Taksonomi diartikan sebagai alat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan
(Sutisna & Laiya, 2020). Krathwohl menyebutkan bahwa taksonomi digunakan
untuk mendefinisikan dan membedakan berbagai tingkat kognisi manusia yaitu
berpikir, belajar, dan memahami. Beberapa peneliti mengatakan bahwa taksonomi
adalah kerangka kerja untuk mengklasifikasikan pernyataan tentang apa yang
diharapkan guru atau yang ingin siswa pelajari sebagai hasil pengajaran.
Berdasarkan beberapa deskripsi tentang taksonomi dalam konteks pendidikan,
dapat disimpulkan bahwa taksonomi pendidikan yaitu pengklasifikasian tujuan
pendidikan untuk membedakan tingkat kognisi manusia dengan harapan dapat
menjadi kerangka kerja dalam menyusun pernyataan yang memuat apa yang
diharapkan guru atau yang ingin siswa pelajari.
Taksonomi
Bloom adalah model pengklasifikasian pemikiran bertingkat menurut enam
tingkat kompleksitas kognitif. Setiap domain memiliki susunan atau disusun
secara hierarki, mulai dari yang sederhana sampai ke arah yang lebih kompleks.
Selama bertahun-tahun, level tersebut sering digambarkan sebagai tangga,
membuat banyak guru mendorong siswanya untuk "naik ke (tingkat) pemikiran
yang lebih tinggi. Tiga tingkat terendah adalah pengetahuan, pemahaman, dan
penerapan. Tiga level tertinggi adalah analisis, sintesis, dan evaluasi. Dengan
kata lain, seorang siswa yang telah sampai di tingkat 'aplikasi' telah
menguasai juga materi di tingkat 'pengetahuan' dan 'pemahaman' (Akademi
Keguruan UW, 2003). Seseorang dapat dengan mudah melihat bagaimana pengaturan
ini mengarah pada pembagian alami dari pemikiran tingkat rendah dan tinggi.
Berikut ini adalah gambar hierarki klasifikasi tersebut.
Meskipun
demikian, satu revisi baru-baru ini (dirancang oleh salah satu editor taksonomi
asli bersama dengan mantan siswa Bloom) patut mendapat perhatian khusus. Selama
tahun 1990-an, seorang mantan siswa Bloom Lorin Anderson, memimpin pertemuan
baru dengan tujuan memperbarui taksonomi serta memiliki harapan untuk menambah
relevansi bagi siswa dan guru abad ke-21. Pertemuan ini dihadiri oleh setiap
perwakilan dari tiga organisasi, yaitu psikolog kognitif, ahli teori kurikulum
dan peneliti instruksional, serta spesialis pengujian dan penilaian (Anderson
et. al., 2001). Perubahan terjadi dalam tiga kategori besar, yaitu terminologi,
struktur, dan penekanan. Perubahan terminologi antara kedua versi tersebut
mungkin merupakan perbedaan yang paling jelas dan juga dapat menyebabkan kebingungan yang paling besar. Pada dasarnya, enam kategori utama Bloom diubah
dari bentuk kata benda menjadi kata kerja. Level terendah diubah penyebutannya,
yaitu "pengetahuan" menjadi "mengingat". Perubahan lainnya dapat dilihat pada gambar berikut ini.
DIMENSI
PROSES KOGNITIF
(TAKSONOMI
BLOOM)
Berikut
ini adalah definisi dari setiap istilah baru.
1. Mengingat/remembering,
yaitu mengambil, mengenali, dan mengingat Kembali pengetahuan yang relevan dari
memori jangka pajang.
2. Memahami/understanding,
yaitu membangun makna dari pesan lisan, tertulis, dan grafis dengan cara
menafsirkan, mencontohkan, mengklasifikasikan, meringkas, menyimpulkan,
membandingkan, dan menjelaskan.
3. Menerapkan/applying,
yaitu melaksanakan atau menggunakan prosedur dengan cara mengeksekusi atau
menerapkan.
4. Menganalisis/analysing,
yaitu memecah materi menjadi bagian-bagian penyusunnya serta menentukan
bagaimana bagian-bagian itu berhubungan satu sama lain dengan keseluruhan
struktur atau tujuan melalui pembedaan, pengorganisasian, dan pemberian
atribut.
5. Mengevaluasi/evaluating,
yaitu membuat penilaian berdasarkan kriteria dan standar melalui pengecekan
dan kritik.
6. Menciptakan/creating,
yaitu menyatukan elemen untuk membentuk keseluruhan yang koheren atau
fungsional. Reorganisasi elemen men- jadi pola atau struktur baru dengan cara
pembangkitan, perencanaan, atau produksi (Anderson et. al., 2001).
Seperti yang telah
diketahui, skema yang terkenal dan diterapkan secara luas ini mengisi
kekosongan dan memberikan salah satu klasifikasi sistematis pertama dari proses
berpikir dan belajar kepada para pendidik untuk anak. Kerangka hierarki
kumulatif terdiri atas enam kategori. Masing- masing kategori membutuhkan
keterampilan dari kategori yang sebelumnya. Tiap tingkatan kategori harus
lebih kompleks dari kategori sebelumnya, tetapi tetap mudah dipahami. Karena
kebutuhan belajar peserta didik, guru harus mengukur kemampuan mereka. Untuk
melakukannya secara akurat, diperlukan klasifikasi tingkat perilaku intelektual
yang penting dalam pembelajaran. Taksonomi Bloom menyediakan alat ukur untuk
berpikir.
Dengan perubahan
dramatis dalam masyarakat selama lima dekade terakhir, taksonomi Bloom yang
direvisi menyediakan alat yang lebih kuat untuk memenuhi kebutuhan guru saat
ini. Struktur matriks tabel taksonomi yang direvisi memberikan representasi
visual yang jelas dan ringkas (Krathwohl, 2002) tentang keselarasan antara
standar serta tujuan, sasaran, produk, dan aktivitas pendidikan. Guru saat ini
harus membuat keputusan sulit tentang bagaimana menghabiskan waktu di kelas
mereka. Penyelarasan tujuan pendidikan yang jelas dengan standar lokal, negara
bagian, dan nasional adalah suatu keharusan. Seperti potongan teka-teki besar,
semuanya harus pas. Tabel taksonomi Bloom yang sudah direvisi mengklarifikasi
kecocokan "pertanyaan penting" serta tujuan atau sasaran setiap
rencana pelajaran.
Hal yang diharapkan
guru atau ingin dipelajari siswa merupakan ide dasar yang melandasi perumusan
tujuan pembelajaran atau bahkan pengembangan kurikulum. Tujuan pembelajaran
dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori utama, yaitu berpikir (thinking),
sikap (attitudes), dan keterampilan fisik (physical skills).
Fokus ketiga area ini adalah merepresentasikan tiga domain belajar (domain
learning), yaitu kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ketiga domain ini
dalam praktiknya tidak berjalan secara terpisah, tetapi ada irisan-irisan satu
sama lain di ketiga domain tersebut (Moore, 2005).
Implementasi Teori Kognitif Benjamin S. Bloom di PAUD
Implementasi
teori kognitif dari Benjamin S. Bloom dapat digambarkan seperti penjelasan di
bawah ini.
a. Mengingat.
Level ini merujuk pada kemampuan peserta didik untuk mengingat-ingat kembali
(recall) apa yang disampaikan oleh pendidiknya. Peserta didik bisa
menyampaikan informasi/pengetahuan sederhana secara verbal atau tulisan.
Misalnya, pada kegiatan penutup, di tahap recalling, peserta didik ditanyakan
kegiatan yang telah dilakukan anak dalam satu hari di sekolah atau mengingat
tentang tema yang dipelajari. Selain itu, pendidik bisa mengajak peserta didik
mengingat topik sederhana seperti, tentang nama orang tua, alamat, nama tempat, dan nama hewan atau buah yang disenangi.
b. Memahami.
Level ini merujuk pada kemampuan peserta didik untuk memahami, menjabarkan,
atau menegaskan informasi yang masuk, seperti menafsirkan dengan bahasa
sendiri. Misalnya, setelah mempelajari tema tentang binatang peliharaan,
peserta didik dapat diminta untuk menceritakan pengetahuan mereka tentang
jenis-jenis binatang, tempat hidupnya, ciri-cirinya, dan jenis makanannya.
Peserta didik dapat menjelaskan ide atau konsep, membuat ringkasan, dan melakukan interpretasi sederhana terhadap data/informasi dengan kata-kata mereka
sendiri.
c. Mengaplikasikan.
Dalam mengaplikasikan sesuatu, peserta didik memerlukan informasi yang dapat
dipelajari untuk digunakan dalam mencapai solusi atau menyelesaikan tugas.
Misalnya, setelah mempelajari tata cara mencuci tangan, peserta didik diminta
praktik langsung untuk cuci tangan dengan tertib dan benar. Contoh lainnya
yaitu setelah mempelajari tentang tema binatang peliharaan dengan materi cara
merawat binatang, peserta didik diajak praktik langsung untuk memberi makan
binatang peliharaan.
d. Menganalisis.
Level ini merujuk pada kemampuan anak didik dalam menguraikan, membandingkan,
mengorganisir, menyusun ulang, mengubah struktur, membuat kerangka, menyusun
outline, mengintegrasikan, membedakan, menyamakan, mengelompokkan, menjelaskan
cara kerja sesuatu, menganalisis hubungan antarbagian, dan mengenali motif atau
struktur organisasi. Misalnya, pada tema binatang peliharaan, pendidik membawa
miniatur binatang peliharaan dan meminta peserta didik untuk mengelompokkan
binatang berdasarkan jumlah kakinya, jenis makanannya, tempat hidupnya, dan
lain-lain.
e. Mengevaluasi.
Level ini merujuk pada kemampuan peserta didik memberikan justifikasi terhadap
sesuatu yang dievaluasi. Ini berarti, peserta didik dengan sendirinya memiliki
berbagai bahan pertimbangan yang diperlukan untuk memberi nilai. Misalnya, pada
saat mempelajari tentang tema binatang peliharaan, pendidik menyajikan gambar
salah satu binatang peliharaan yang telah dihilangkan beberapa bagian anggota
tubuh. Selanjutnya, peserta didik diminta untuk mengevaluasi bagian anggota
tubuh yang hilang atau tidak ada.
f. Mencipta.
Level ini merujuk pada kemampuan peserta didik untuk memadukan berbagai macam
informasi dan mengembangkannya sehingga terjadi sesuatu bentuk yang baru.
Selain itu, level ini juga ditunjukkan dengan kemampuan peserta didik dalam
merancang, membangun, merencanakan, memproduksi, menemukan, membarui,
menyempurnakan, memperkuat, memperindah, dan mengubah. Misalnya, ketika tema
binatang peliharaan telah dipelajari, pendidik menyiapkan bahan-bahan loose
part dan meminta peserta didik untuk berkreasi membuat binatang peliharaan yang
disenangi atau membuat kandang binatang peliharaan sesuai ide dan imajinasi
anak.
0 Komentar