Konsep Kognitif Menurut David Paul Ausubel
Teori
belajar Ausubel memiliki makna yang sama dengan teori konstruktivisme. Keduanya
menekankan pada peserta didik untuk mengasosiasikan pengalaman, fenomena, serta
fakta-fakta baru ke dalam sistem penafsiran yang sudah dimiliki. Keduanya juga
menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsep ataupun
penafsiran yang telah dimiliki siswa. Keduanya mengandaikan jika dalam proses
belajar itu siswa aktif (Tarmidzi, 2019).
Menurut
Ausubel, guru wajib bisa meningkatkan kemampuan kognitif siswa lewat proses
belajar yang bermakna. Sama dengan Bruner dan Gagne, Ausubel juga berpikiran
bahwa pembelajaran peserta didik pada tingkat bawah akan lebih efektif jika
banyak dilibatkan dalam aktivitas langsung. Namun, untuk siswa pada tingkatan
pembelajaran yang lebih tinggi, kegiatan belajar yang melibatkan aktivitas
langsung akan menyita banyak waktu. Ausubel
juga berpendapat bahwa pembelajaran akan lebih efisien jika guru memakai uraian,
peta konsep, demonstrasi, diagram, serta ilustrasi.
Faktor-faktor utama yang memengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi dan waktu tertentu (Mulyati, 2005). Menurut Ausubel, seorang anak akan belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya. Dalam proses itu, seseorang dapat mengembangkan atau mengubah skema yang ada. Dalam proses belajar ini, anak mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Mulyati, 2005). Belajar akan mendatangkan hasil atau makna jika guru dapat menyajikan materi pelajaran yang baru dan menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi anak.
Tipe-Tipe Belajar Menurut David Paul Ausubel
Menurut Ausubel,
proses belajar terjadi melalui beberapa tahapan, yaitu: 1) memperhatikan
stimulus yang diberikan; 2) memahami makna stimulus yaitu menyimpan dan
menggunakan informasi yang sudah dipahami; dan 3) menerapkan meaningful
learning, yakni suatu proses yang berkaitan dengan proses-proses sebelumnya.
Agar tercipta suatu pembelajaran bermakna, maka ada dua syarat yang harus
dipenuhi, yaitu sebagai berikut (Budianingsih, 2015).
a. Materi
yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial. Materi pelajaran
dikatakan bermakna secara potensial apabila materi tersebut logis dan relevan
dengan struktur kognitif siswa.
b. Siswa
yang akan belajar harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna (memiliki
kesiapan dan minat untuk belajar bermakna).
Ausubel membagi tipe-tipe belajar menjadi empat, yaitu sebagai berikut.
a. Belajar
dengan penemuan yang bermakna. Konsep ini dapat diartikan bahwa pengetahuan
yang telah dimiliki oleh anak sebelumnya dikaitkan dengan materi atau
informasi baru yang dipelajari saat ini. Konsep ini juga dapat diartikan
sebaliknya, yaitu pengetahuan baru yang ditemukan dan dipelajari anak
dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.
b. Belajar
dengan penemuan yang tidak bermakna. Konsep ini dapat diartikan bahwa
pengetahuan atau materi baru yang dipelajari dapat ditemukan sendiri oleh
siswa tanpa harus mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dan kemudian ia
hafalkan.
c. Belajar
menerima (ekspositori) yang bermakna. Konsep ini diartikan bahwa materi
pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai
bentuk akhir. Pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan
lain yang telah dimiliki.
d. Belajar
menerima (ekspositori) yang tidak bermakna. Konsep ini diartikan bahwa materi
pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai
bentuk akhir. Pengetahuan yang baru ia peroleh itu ia hafalkan tanpa
mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki (Budianingsih, 2015).
Berikut ini adalah
langkah-langkah belajar bermakna menurut David Ausubel (Budianingsih, 2015).
a. Menentukan
tujuan pembelajaran.
b. Melakukan
identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, motivasi, gaya belajar, dan
sebagainya).
c. Memilih
materi pelajaran sesuai karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk
konsep-konsep inti.
d. Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari siswa.
e. Mempelajari konsep-konsep inti tersebut dan menerapkannya dalam bentuk nyata atau konkret.
f. Melakukan
penilaian proses dan hasil belajar siswa.
Implementasi Teori Kognitif David Paul Ausubel di PAUD
Menurut
Nugroho (2015), tahapan atau cara pembelajaran bermakna bagi anak antara lain:
a. tentukan
suatu tema bacaan dari buku pelajaran;
b. tentukan
konsep-konsep yang relevan;
c. urutkan
konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau
contoh-contoh;
d. susun
konsep-konsep tersebut di atas kertas, mulai dari konsep yang paling inklusif
di puncak konsep sampai konsep yang tidak inklusif di bawah; dan
e. hubungkan
konsep-konsep ini dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah peta
konsep.
Dalam pembelajaran
bermakna, pendidik harus menggali konsep-konsep yang ada pada peserta didik
sehingga dapat dipadukan dengan konsep-konsep yang akan dipelajari. Hal ini
harus dilakukan agar terjadi pembelajaran bermakna pada siswa sehingga peserta
didik akan mendapatkan pengalaman langsung dari pembelajaran yang dilakukan.
Mereka juga diharapkan dapat menggunakan banyak alat indranya dalam belajar
sehingga tidak hanya mendengar atau sekadar memperhatikan pendidik yang
menjelaskan materi pel. ajaran, tetapi juga dapat memahaminya secara mendalam.
Suatu proses pembelajaran dapat dikatakan bermakna dari cara kegiatan
belajarnya. Berikut ini adalah tiga kategori cara belajar yang terdapat dalam
belajar bermakna.
a. Cara
belajar dengan menerima. Dalam hal ini, kegiatan pembelajaran lebih ditekankan
dalam belajar, seperti cara memperhatikan, mengamati, mendengar, dan kemudian
dilanjutkan dengan mengkaji.
b. Cara
belajar penemuan yang terpimpin. Dalam proses pembelajaran, peserta didik
melakukan sendiri pencarian terhadap konsep-konsep pengetahuan dengan bantuan
seorang pendidik yang didasarkan pada prinsip dan prosedur yang telah ada.
c. Proses
belajar dengan melakukan penemuan sendiri. Peserta didik harus mencari
pengetahuan sendiri, tanpa mendapat bantuan dari gurunya.
0 Komentar