TEORI KOGNITIF MENURUT DAVID PAUL AUSUBEL

  

Konsep Kognitif Menurut David Paul Ausubel

Ausubel memiliki nama lengkap David Paul Ausubel yang lahir dan besar di Broklyn, New York, tanggal 25 oktober 1918. David Paul ausubel menempuh pendidikan tinggi di University of Pennyslavina pada program studi Psikologi. Teori David Paul Ausubel berkaitan dengan bagaimana individu mempelajari sejumlah materi yang berasal dari presentasi verbal/tekstual di sekolah (Muamanah & Suyadi, 2020).

Teori belajar Ausubel memiliki makna yang sama dengan teori konstruktivisme. Keduanya menekankan pada peserta didik untuk mengasosiasikan pengalaman, fenomena, serta fakta-fakta baru ke dalam sistem penafsiran yang sudah dimiliki. Keduanya juga menekankan pentingnya asimilasi pengalaman baru ke dalam konsep ataupun penafsiran yang telah dimiliki siswa. Keduanya mengandaikan jika dalam proses belajar itu siswa aktif (Tarmidzi, 2019).

Menurut Ausubel, guru wajib bisa meningkatkan kemampuan kognitif siswa lewat proses belajar yang bermakna. Sama dengan Bruner dan Gagne, Ausubel juga berpikiran bahwa pembelajaran peserta didik pada tingkat bawah akan lebih efektif jika banyak dilibatkan dalam aktivitas langsung. Namun, untuk siswa pada tingkatan pembelajaran yang lebih tinggi, kegiatan belajar yang melibatkan aktivitas langsung akan menyita banyak waktu. Ausubel juga berpendapat bahwa pembelajaran akan lebih efisien jika guru memakai uraian, peta konsep, demonstrasi, diagram, serta ilustrasi.

Faktor-faktor utama yang memengaruhi belajar bermakna menurut Ausubel adalah struktur kognitif yang ada, stabilitas, dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi dan waktu tertentu (Mulyati, 2005). Menurut Ausubel, seorang anak akan belajar dengan mengasosiasikan fenomena baru ke dalam skema yang telah ia punya. Dalam proses itu, seseorang dapat mengembangkan atau mengubah skema yang ada. Dalam proses belajar ini, anak mengonstruksi apa yang ia pelajari sendiri. Inti dari teori belajar bermakna Ausubel adalah suatu proses mengaitkan informasi baru pada konsep-konsep relevan yang terdapat dalam struktur kognitif seseorang (Mulyati, 2005). Belajar akan mendatangkan hasil atau makna jika guru dapat menyajikan materi pelajaran yang baru dan menghubungkannya dengan konsep yang relevan yang sudah ada dalam struktur kognisi anak.


Tipe-Tipe Belajar Menurut David Paul Ausubel

Menurut Ausubel, proses belajar terjadi melalui beberapa tahapan, yaitu: 1) memperhatikan stimulus yang diberikan; 2) memahami makna stimulus yaitu menyimpan dan menggunakan informasi yang sudah dipahami; dan 3) menerapkan meaningful learning, yakni suatu proses yang berkaitan dengan proses-proses sebelumnya. Agar tercipta suatu pembelajaran bermakna, maka ada dua syarat yang harus dipenuhi, yaitu sebagai berikut (Budianingsih, 2015).

a.  Materi yang akan dipelajari harus bermakna secara potensial. Materi pelajaran dikatakan bermakna secara potensial apabila materi tersebut logis dan relevan dengan struktur kognitif siswa.

b. Siswa yang akan belajar harus bertujuan untuk melaksanakan belajar bermakna (memiliki kesiapan dan minat untuk belajar bermakna).

Ausubel membagi tipe-tipe belajar menjadi empat, yaitu sebagai berikut.

a.   Belajar dengan penemuan yang bermakna. Konsep ini dapat diartikan bahwa pengetahuan yang telah dimiliki oleh anak sebelumnya dikaitkan dengan materi atau informasi baru yang dipelajari saat ini. Konsep ini juga dapat diartikan sebaliknya, yaitu pengetahuan baru yang ditemukan dan dipelajari anak dikaitkan dengan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya.

b.   Belajar dengan penemuan yang tidak bermakna. Konsep ini dapat diartikan bahwa pengetahuan atau materi baru yang dipelajari dapat ditemukan sendiri oleh siswa tanpa harus mengaitkan pengetahuan yang telah dimilikinya dan kemudian ia hafalkan.

c.    Belajar menerima (ekspositori) yang bermakna. Konsep ini diartikan bahwa materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. Pengetahuan yang baru ia peroleh itu dikaitkan dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki.

d.   Belajar menerima (ekspositori) yang tidak bermakna. Konsep ini diartikan bahwa materi pelajaran yang telah tersusun secara logis disampaikan kepada siswa sampai bentuk akhir. Pengetahuan yang baru ia peroleh itu ia hafalkan tanpa mengaitkannya dengan pengetahuan lain yang telah dimiliki (Budianingsih, 2015).

 

Berikut ini adalah langkah-langkah belajar bermakna menurut David Ausubel (Budianingsih, 2015).

a.    Menentukan tujuan pembelajaran.

b. Melakukan identifikasi karakteristik siswa (kemampuan awal, motivasi, gaya belajar, dan sebagainya).

c.   Memilih materi pelajaran sesuai karakteristik siswa dan mengaturnya dalam bentuk konsep-konsep inti.

d.   Menentukan topik-topik dan menampilkannya dalam bentuk advance organizer yang akan dipelajari siswa.

e.   Mempelajari konsep-konsep inti tersebut dan menerapkannya dalam bentuk nyata atau konkret.

f.    Melakukan penilaian proses dan hasil belajar siswa.


Implementasi Teori Kognitif David Paul Ausubel di PAUD

Menurut Nugroho (2015), tahapan atau cara pembelajaran bermakna bagi anak antara lain:

a.    tentukan suatu tema bacaan dari buku pelajaran;

b.    tentukan konsep-konsep yang relevan;

c.    urutkan konsep-konsep dari yang paling inklusif ke yang paling tidak inklusif atau contoh-contoh;

d.  susun konsep-konsep tersebut di atas kertas, mulai dari konsep yang paling inklusif di puncak konsep sampai konsep yang tidak inklusif di bawah; dan

e.    hubungkan konsep-konsep ini dengan kata-kata penghubung sehingga menjadi sebuah peta konsep.

 

Dalam pembelajaran bermakna, pendidik harus menggali konsep-konsep yang ada pada peserta didik sehingga dapat dipadukan dengan konsep-konsep yang akan dipelajari. Hal ini harus dilakukan agar terjadi pembelajaran bermakna pada siswa sehingga peserta didik akan mendapatkan pengalaman langsung dari pembelajaran yang dilakukan. Mereka juga diharapkan dapat menggunakan banyak alat indranya dalam belajar sehingga tidak hanya mendengar atau sekadar memperhatikan pendidik yang menjelaskan materi pel. ajaran, tetapi juga dapat memahaminya secara mendalam. Suatu proses pembelajaran dapat dikatakan bermakna dari cara kegiatan belajarnya. Berikut ini adalah tiga kategori cara belajar yang terdapat dalam belajar bermakna.

a.      Cara belajar dengan menerima. Dalam hal ini, kegiatan pembelajaran lebih ditekankan dalam belajar, seperti cara memperhatikan, mengamati, mendengar, dan kemudian dilanjutkan dengan mengkaji.

b.      Cara belajar penemuan yang terpimpin. Dalam proses pembelajaran, peserta didik melakukan sendiri pencarian terhadap konsep-konsep pengetahuan dengan bantuan seorang pendidik yang didasarkan pada prinsip dan prosedur yang telah ada.

c.       Proses belajar dengan melakukan penemuan sendiri. Peserta didik harus mencari pengetahuan sendiri, tanpa mendapat bantuan dari gurunya.

Posting Komentar

0 Komentar