Pengertian Kognitif Menurut Jerome S. Bruner
Bruner adalah tokoh
yang mencetuskan konsep belajar penemuan (discovery). Beliau juga seorang
pengikut setia teori kognitif, khususnya dalam studi perkembangan fungsi
kognitif, dan menandai perkembangan kognitif manusia sebagai berikut.
a. Perkembangan
intelektual ditandai dengan adanya kemajuan dalam menanggapi suatu rangsangan.
b. Peningkatan
pengetahuan tergantung pada perkembangan sistem penyimpanan informasi secara
realistis.
c. Perkembangan
intelektual meliputi perkembangan kemampuan berbicara pada diri sendiri atau
pada orang lain melalui kata-kata atau lambang tentang apa yang telah dilakukan
dan apa yang akan dilakukan. Hal ini berhubungan dengan kepercayaan pada diri
sendiri.
d. Interaksi
secara sistematis antara pembimbing, guru, orang tua, dan anak diperlukan untuk
perkembangan kognitifnya.
e. Bahasa
adalah kunci perkembangan kognitif, karena bahasa merupakan alat komunikasi
antarmanusia. Bahasa diperlukan untuk mengomunikasikan suatu konsep kepada
orang lain.
f. Perkembangan kognitif ditandai dengan kecakapan untuk mengemukakan beberapa alternatif secara simultan, memilih tindakan yang tepat, dan dapat memberikan prioritas yang berurutan dalam berbagai situasi.
Tahapan Perkembangan Kognitif Menurut Jerome S. Bruner
Menurut Bruner,
perkembangan kognitif seseorang terjadi melalui tiga tahap yang ditentukan
dengan cara melihat lingkungan, yaitu tahap enaktif, ikonik, dan simbolis.
a. Tahapan
enaktif. Pada tahapan ini, anak didik melakukan aktivitas-ativitas dalam usaha
memahami lingkungan sekitarnya. Peserta didik melakukan observasi dengan cara
mengalami secara langsung suatu realitas. Artinya, dalam memahami dunia
sekitar, anak menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya, melaui gigitan,
sentuhan, dan pegangan.
b. Tahap
ikonik. Pada tahap ini. Anak didik melihat dan memahami dunia sekitarnya
melalui gambar-gambar dan visualisasi verbal. Anak belajar melalui bentuk
perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komprasi).
c. Tahap simbolis. Pada tahap ini, anak didik mempunyai gagasan-gagasan abstrak yang banyak dipengaruhi bahasa dan logika serta komunikasi yang dilakukan dengan pertolongan sistem simbol. Semakin dewasa seseorang, maka sistem simbol ini akan semakin dominan. Peserta didik membuat abstraksi berupa teori-teori, penafsiran, analisis, dan sebagainya terhadap realitas yang telah diamati dan dialami.
Menurut Bruner,
belajar untuk sesuatu tidak usah menunggu sampai peserta didik mencapai tahap
perkembangan tertentu. Hal yang paling penting adalah bahan Pelajaran harus
ditata dengan baik sehingga dapat diberikan dan mudah dimengerti oleh peserta
didik. Dengan kata lain, perkembangan kognitif seseorang dapat ditingkatkan
dengan jalan mengatur bahan ajar yang akan dipelajari dengan menyajikannya
sesuai dengan Tingkat perkembangannya.
Penerapan teori Bruner
yang terkenal dalam pendidikan adalah kurikulum spiral, yaitu ketika materi
pelajaran yang sama dapat diberikan dimulai dari sekolah dasar sampai perguruan
tinggi, tetapi tetap disesuaikan dengan tingkat perkembangan kognitif peserta
didik. Artinya, kurikulum spiral menuntut adanya pengulangan. Cara belajar
terbaik menurut Bruner adalah dengan memahami konsep arti suatu kesimpulan free
discovery learning atau dapat dikatakan sebagai belajar dengan menemukan
atau discovery.
Dalam konsep Jerome
Bruner, ada tiga episode/tahap yang ditempuh oleh anak dalam berpikir, yaitu
tahap informasi (tahap penerimaan materi), tahap transformasi (tahap pengubah
materi), dan tahap evaluasi (tahap penilaian materi) (Zain, 2002). Pertama,
tahap informasi diperoleh. Ada yang menambah pengetahuan yang telah
dimiliki, ada yang diperhalus dan diperdalam, serta ada pula informasi yang bertentangan denga apa yang telah diketahui sebelumnya, misalnya tidak ada
energi yang lenyap. Kedua, tahap transformasi (tahap pengubahan materi).
Informasi itu harus dianalisis, diubah, atau ditransformasi ke dalam bentuk
yang lebih abstrak atau konseptual agar dapat digunakan untuk hal-hal yang
lebih luas. Dalam hal ini, bantuan guru sangat diperlukan. Ketiga, tahap
evaluasi (tahap penilai materi), yaitu penilaian tentang seberapa besar
pengetahuan yang diperoleh dan ditransformasikan itu dapat dimanfaatkan untuk
memahami gejala-gejala lain.
Dalam proses belajar,
ketiga tahapan tersebut selalu terjadi. Sebab, yang menjadi masalah ialah
beberapa banyak informasi diperlukan agar dapat ditransformasi. Tiap tahapan
tidak selalu lama. Hal ini bergantung pada hasil yang diharapkan, seperti
motivasi murid belajar, minat, keinginan mengetahui, dan dorongan untuk
menemukan sendiri. Konsep ini juga menjelaskan bahwa prinsip pembelajaran
harus memperhatikan perubahan kondisi internal peserta didik yang terjadi
selama pengalaman belajar diberikan di kelas. Pengalaman yang diberikan dalam
pembelajaran harus bersifat penemuan yang memungkinkan peserta didik dapat
memperoleh informasi dan keterampilan baru dari Pelajaran sebelumnya. Oleh
karena itu, konsep ini secara sadar mengembangkan proses belajar anak yang
mengarah kepada aspek jiwa dan raga.
Kelebihan dan Kelemahan Belajar Penemuan Menurut Jerome S. Bruner
Kelebihan konsep ini membantu peserta didik mengembangkan bakat serta membentuk sifat kesiapan dan kemampuan keterampilan dalam proses kognitif peserta didik. Peserta didik mendapatkan pengetahuan yang bersifat pribadi sehingga pengetahuan tersebut dapat bertahan lama dalam diri peserta didik. Konsep ini memberikan semangat belajar peserta didik dengan konsep belajar mencari dan menemukan pengetahuan sendiri, rasa ingin tahu timbul sehingga membentuk belajar yang Ikhlas dan aktif. Konsep ini memerikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengembangkan kemampuan dan keterampilannya sendiri sesuai dengan bakat dan hobi yang dimilikinya. Konsep ini juga memberikan juga memberikan kepercayaan diri bagi peserta didik karena mampu menemukan, mengolah, memilah dan mengembangkan pengetahuan sendiri. Konsep ini hanya berpusat pada peserta didik, peran guru hanya membantu saja.
Adapun kelemahan konsep belajar Bruner yaitu memakan waktu yang cukup banyak dan jika kurang terpimpin atau kurang terarah dapat terjerumus kepada kekacauan dan kekaburan atas materi yang dipelajari. Konsep belajar ini menuntut peserta didik untuk memiliki kesiapan dan kematangan mental. Peserta didik harus berani dan memiliki keinginan untuk mengetahui keadaan di sekitarnya. Jika tidak memiliki keberanian dan keinginan, proses belajar dan gagal.
Konsep
ini kurang berhasil apabila dilaksanakan di dalam kelas yang besar. Konsep ini
terlalu mementingkan proses pengertian saja, kurang memperhatikan perkembangan/pembentukan
sikap dan keterampilan bagi peserta didik. Konsep ini mungkin tidak memberikan
kesempatan untuk berpikir secara kreatif. Dari beberapa penjelasan tentang
kelebihan dan kelemahan konsep penemuan menurut Bruner, konsep belajar ini
harus digunakan sesuai dengan keadaan dan tempatnya sehingga penggunaan konsep
ini dapat dimaksimalkan dan terjadi kegagalan pembelajaran karena salah dalam
penggunaannya.
0 Komentar