1. Pengertian Kognitif Menurut Lev Vygotsky
|
|
Teori
kognitif Vygotsky adalah teori kognitif yang mengutamakan bagaimana interaksi
sosial dan budaya memengaruhi perkembangan anak. Vygotsky menggambarkan
perkembangan anak sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari aktivitas sosial
dan budaya (Santrock, 2007). Ia percaya bahwa perkembangan ingatan, atensi, dan
penalaran yang terjadi dalam pembelajaran memerlukan pertemuan antarmasyarakat,
seperti bahasa, sistem matematis, dan strategi ingatan. Contohnya, pada suatu
budaya belajar anak menghitung menggunakan bantuan komputer dan dalam budaya
lain belajar berhitung menggunakan tangan atau menggunakan swipoa.
Teori
Vygotsky memiliki pandangan bahwa pengetahuan itu dipengaruhi situasi dan
bersifat kolaboratif (Jhon-Steinner & Mahn dalam Santrock, 2007). Dalam
pandangan ini, pengetahuan tidak dihasilkan dari dalam individu, tetapi lebih
dibangun melalui interaksi dengan orang lain dan benda budaya, seperti buku.
Pandangan ini juga menunjukkan bahwa pemahaman dapat ditingkatkan melalui
interaksi dengan orang lain dalam aktivitas yang kooperatif.
Teori
Vygotsky menekankan bahwa interaksi sosial anak dengan orang dewasa yang lebih
terampil serta teman sebaya merupakan hal yang penting. dalam meningkatkan perkembangan kognitif. Melalui
interaksi inilah individu yang kurang terampil belajar menggunakan alat-alat
yang akan membantu mereka beradaptasi dan berhasil di masyarakat. Ketika
pembaca yang terampil secara rutin membantu anak belajar membaca, tidak hanya
meningkatkan keterampilan membaca, tetapi juga mengomunikasikan pada anak bahwa
membaca adalah aktivitas penting dalam suatu budaya
Vygotsky berasumsi bahwa setiap fungsi perkembangan cultural anak muncul sebanyak dua kali. Pertama, di tingkat sosial (interpsikologis). Kedua, di tingkat individual atau dalam diri anak (intrapsikologis). Dengan kata lain, proses-proses mental yang lebih tinggi awalnya dibangun selama kegiatan bersama antara anak dan orang lain. Setelah itu, proses itu diinternalisasikan oleh anak dan menjadi bagian perkembangan kognitif anak (Suryana, 2016).
2. Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Lev Vygotsky
a. Hukum Genetik tentang Pekembangan
Vygotsky berpendapat
bahwa belajar dan berkembang merupakan peristiwa kualitatif dalam kehidupan
anak yang tidak hanya diperoleh melalui akumulasi fakta-fakta dan
keterampilan-keterampilan, tetapi juga melewati dua tataran, yaitu tataran
sosial tempat orang-orang membentuk lingkungan sosialnya (dapat dikategorikan
sebagai interpsikologis atau intermental) dan tataran psikologis di dalam diri
orang yang bersangkutan (dapat dikategorikan sebagai intrapsikologis atau
intramental). Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan
sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan
serta perkembangan kognitif seseorang. Fungsi-fungsi mental tinggi dalam diri
seseorang akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara fungsi
intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau
terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial
tersebut.
ZPD adalah istilah
yang digunakan oleh Vygotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit dikuasai
sendiri oleh anak-anak, tetapi dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari
orang-orang dewasa atau teman sebaya yang lebih terampil. ZPD dapat diartikan
sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan yang belum matang yang masih berada pada
proses pematangan. Kemampuan ini akan semakin matang jika terdapat interaksi
dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten.
Untuk menafsirkan konsep ZPD, seseorang dapat menggunakan scaffolding
interpretation, yaitu memandang ZPD sebagai batu loncatan untuk mencapai taraf
perkembangan yang semakin tinggi.
Menurut
Vygotsky, perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua
tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial.
Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan
masalah atau tugas-tugas secara mandiri (kemampuan intramental). Tingkat
perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan
masalah atau tugas-tugas ketika berada di bawah bimbingan orang dewasa atau
ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Batas jarak
antara tingkat perkembangan aktual dan potensial yaitu pada aktivitas dari
daerah perkembangan yang terdekat atau dapat disebut juga zona perkembangan
proksimal.
ZPD
adalah konsep penting yang berkaitan dengan antara apa yang dapat dicapai
seorang anak secara mandiri dan apa yang dapat dicapai anak dengan bimbingan
orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten. Oleh karena itu, Vygotsky
berfokus lebih dekat pada interaksi sosial sebagai bantuan untuk belajar dengan
alasan bahwa jika dibiarkan sendiri, anak-anak akan berkembang—tetapi tidak
secara maksimal. Fokus Vygotsky tersebut merujuk pada kesenjangan antara
pembelajaran aktual dan potensial sebagai zona perkembangan proksimal. Ia juga
berpendapat bahwa hanya melalui kolaborasi dengan orang dewasa dan pelajar
lain, kesenjangan ini dapat dijembatani (Mcleod, 2023).
Scaffolding merupakan dukungan
yang diberikan orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya kepada anak dalam
melakukan sebuah tugas sampai anak tersebut dapat melakukannya sendiri.
Vygotsky mengemukakan empat tahapan ZPD yang terjadi dalam perkembangan anak,
(Sujiono, 2019), yaitu sebagai berikut.
1.
Tindakan
anak masih dipengaruhi atau dibantu orang lain. Misalnya, anak yang masih
dibantu memakai baju, sepatu, dan kaus kaki ketika berangkat sekolah.
2.
Tindakan
anak didasarkan atas inisiatif sendiri. Misalnya, anak yang mulai berkeinginan
mencoba memakai baju, sepatu, dan kaos kaki sendiri tetapi masih sering keliru
memakai sepatu antara kiri dan kanan. Memakai baju pun membutuhkan waktu yang
lama karena keliru memasangkan kancing.
3.
Tindakan
anak berkembang secara spontan dan terinternalisasi atau melakukan sesuatu
tanpa adanya perintah dari orang dewasa. Misalnya, anak yang setiap pagi
sebelum berangkat sekolah sudah paham tentang apa saja yang harus dilakukannya,
seperti memakai baju kemudian kaos kaki dan sepatu.
4.
Tindakan
spontan dan diulang-ulang hingga anak siap untuk berpikir secara abstrak.
Terwujudnya perilaku yang otomatisasi membuat anak secara cepat dapat melakukan
sesuatu tanpa contoh, tetapi berdasarkan kemampuannya dalam mengingat urutan
suatu kegiatan. Bahkan, ia dapat menceritakan kembali apa yang dilakukannya di
pagi hari saat hendak berangkat ke sekolah.
c. Private
Speech
Menurut Vygotsky,
kunci utama untuk memahami proses sosial psikologis adalah tanda-tanda atau
lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator. Tanda dan lambang merupakan
produk dari lingkungan sosiokultural tempat seseorang berada. Mekanisme
hubungan antara pendekatan sosiokultural dan fungsi-fungsi mental didasari oleh
tema mediasi semiotik. Artinya, tanda atau lambang beserta makna yang
terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penghubung antara
rasionalitas-sosiokultural (intermental) dan individu sebagai tempat
berlangsungnya proses mental (Wertsch, 1990).
Elemen-elemen yang terdiri atas
ucapan, bunyi suara, tipe percakapan sosial, dan dialog secara kontekstual
berada dalam batasan sejarah, kelembagaan, budaya, dan faktor individu.
Vygotsky meyakini bahwa bahasa memainkan peranan besar dalam perkembangan kognisi.
Bahasa merupakan alat mental yang berfungsi sebagai mekanisme aktual untuk
berpikir. Bahasa membuat pemikiran lebih abstrak, luwes, dan terbebas dari
rangsangan yang bersifat sementara. Ketika anak-anak menggunakan simbol dan
konsep untuk berpikir, mereka tidak selamanya membutuhkan kehadiran objek-objek
agar dapat berpikir. Bahasa menjadikan anak-anak berimajinasi, mengubah
(memanipulasi), menciptakan gagasan-gagasan baru, dan membagi gagasan-gagasan
itu dengan anak lainnya.
Struktur mental atau kognitif anak
terbentuk dari hubungan antara fungsi-fungsi mental. Hubungan antara bahasa dan
pemikiran diyakini sangat penting dalam kaitannya. Kemahiran berbahasa dapat
berfungsi untuk hal-hal berikut.
1) Sumber berpikir. Vygotsky berpendapat bahwa
seorang anak pertama kali menggunakan bahasa dalam melakukan interaksi sosial
yang dangkal. Namun, lambat laun, bahasa akan menjadi bentuk dari cara anak
berpikir.
2) Mengetahui makna dan bentuk konsep. Seorang
anak menyadari bahwa bahasa merupakan segala sesuatu yang mempunyai makna.
Masing-masing individu menggunakan objek atau ide yang sesuai dengan situasi
masalah dalam menjelaskan masalah tersebut dengan menamai objek tersebut.
Ketika kehilangan kata untuk objek yang baru, ia akan meminta pada orang
dewasa. Kata pertama yang diperoleh anak akan menjadi bentuk sebuah konsep.
3) Konstruktivisme sosial. Kemampuan kognitif
dan pola pikir bukanlah dasar yang ditentukan oleh faktor bawaan, melainkan
hasil dari aktivitas atau lingkungan tempat individu tersebut tinggal. Bahasa
adalah alat penting untuk mengetahui bagaimana anak akan belajar untuk
berpikir. Sebab, gagasan (ide) yang diperolehnya akan diteruskan dalam bentuk
arti kata.
0 Komentar