TEORI KOGNITIF MENURUT LEV VYGOTSKY

  


   1.    Pengertian Kognitif Menurut Lev Vygotsky


Lev Vygotsky lahir pada tanggal 17 November 1896 dan wafat pada tanggal 11 Juni 1934. Lev Vygotsky adalah seorang psikolog asal Rusia yang dikenal atas kontribusinya dalam teori perkembangan anak. Salah satu hasil kerjanya yang dikenal di bidang psikologi anak adalah merumuskan konsep “zone of proximal development”. Konsep ini menjelaskan bahwa dalam proses pembelajaran seorang anak, terdapat sebuah situasi ketika anak tersebut akan berhasil belajar apabila ia memperoleh bantuan eksternal agar dapat mencapai kemampuan yang lebih tinggi. Bantuan tersebut diberikan baik dari orang dewasa yang lebih terampil maupun dari teman sebaya yang lebih berpengalaman. Vygotsky menekankan bahwa proses pembelajaran anak tidak dapat dipisahkan dari konteks sosial dan budaya. Ia berpendapat bahwa setiap anak belajar dari interaksi dengan lingkungan sosialnya. Orang yang berperan membantu anak dalam pembelajaran, seperti guru, orang tua, atau teman, disebut sebagai (“the more knowledgeable other” ).

Teori kognitif Vygotsky adalah teori kognitif yang mengutamakan bagaimana interaksi sosial dan budaya memengaruhi perkembangan anak. Vygotsky menggambarkan perkembangan anak sebagai sesuatu yang tidak terpisahkan dari aktivitas sosial dan budaya (Santrock, 2007). Ia percaya bahwa perkembangan ingatan, atensi, dan penalaran yang terjadi dalam pembelajaran memerlukan pertemuan antarmasyarakat, seperti bahasa, sistem matematis, dan strategi ingatan. Contohnya, pada suatu budaya belajar anak menghitung menggunakan bantuan komputer dan dalam budaya lain belajar berhitung menggunakan tangan atau menggunakan swipoa.

Teori Vygotsky memiliki pandangan bahwa pengetahuan itu dipengaruhi situasi dan bersifat kolaboratif (Jhon-Steinner & Mahn dalam Santrock, 2007). Dalam pandangan ini, pengetahuan tidak dihasilkan dari dalam individu, tetapi lebih dibangun melalui interaksi dengan orang lain dan benda budaya, seperti buku. Pandangan ini juga menunjukkan bahwa pemahaman dapat ditingkatkan melalui interaksi dengan orang lain dalam aktivitas yang kooperatif.

Teori Vygotsky menekankan bahwa interaksi sosial anak dengan orang dewasa yang lebih terampil serta teman sebaya merupakan hal yang penting. dalam meningkatkan perkembangan kognitif. Melalui interaksi inilah individu yang kurang terampil belajar menggunakan alat-alat yang akan membantu mereka beradaptasi dan berhasil di masyarakat. Ketika pembaca yang terampil secara rutin membantu anak belajar membaca, tidak hanya meningkatkan keterampilan membaca, tetapi juga mengomunikasikan pada anak bahwa membaca adalah aktivitas penting dalam suatu budaya

Vygotsky berasumsi bahwa setiap fungsi perkembangan cultural anak muncul sebanyak dua kali. Pertama, di tingkat sosial (interpsikologis). Kedua, di tingkat individual atau dalam diri anak (intrapsikologis). Dengan kata lain, proses-proses mental yang lebih tinggi awalnya dibangun selama kegiatan bersama antara anak dan orang lain. Setelah itu, proses itu diinternalisasikan oleh anak dan menjadi bagian perkembangan kognitif anak (Suryana, 2016).

2.    Tahap Perkembangan Kognitif Menurut Lev Vygotsky

a.     Hukum Genetik tentang Pekembangan

Vygotsky berpendapat bahwa belajar dan berkembang merupakan peristiwa kualitatif dalam kehidupan anak yang tidak hanya diperoleh melalui akumulasi fakta-fakta dan keterampilan-keterampilan, tetapi juga melewati dua tataran, yaitu tataran sosial tempat orang-orang membentuk lingkungan sosialnya (dapat dikategorikan sebagai interpsikologis atau intermental) dan tataran psikologis di dalam diri orang yang bersangkutan (dapat dikategorikan sebagai intrapsikologis atau intramental). Pandangan teori ini menempatkan intermental atau lingkungan sosial sebagai faktor primer dan konstitutif terhadap pembentukan pengetahuan serta perkembangan kognitif seseorang. Fungsi-fungsi mental tinggi dalam diri seseorang akan muncul dan berasal dari kehidupan sosialnya. Sementara fungsi intramental dipandang sebagai derivasi atau keturunan yang tumbuh atau terbentuk melalui penguasaan dan internalisasi terhadap proses-proses sosial tersebut.


        b.       Zona Perkembangan Proksimal (Zone of Proximal Development / ZPD)

ZPD adalah istilah yang digunakan oleh Vygotsky untuk tugas-tugas yang terlalu sulit dikuasai sendiri oleh anak-anak, tetapi dapat dikuasai dengan bimbingan dan bantuan dari orang-orang dewasa atau teman sebaya yang lebih terampil. ZPD dapat diartikan sebagai fungsi-fungsi atau kemampuan yang belum matang yang masih berada pada proses pematangan. Kemampuan ini akan semakin matang jika terdapat interaksi dengan orang dewasa atau kolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Untuk menafsirkan konsep ZPD, seseorang dapat menggunakan scaffolding interpretation, yaitu memandang ZPD sebagai batu loncatan untuk mencapai taraf perkembangan yang semakin tinggi.

Menurut Vygotsky, perkembangan kemampuan seseorang dapat dibedakan ke dalam dua tingkat, yaitu tingkat perkembangan aktual dan tingkat perkembangan potensial. Tingkat perkembangan aktual tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah atau tugas-tugas secara mandiri (kemampuan intramental). Tingkat perkembangan potensial tampak dari kemampuan seseorang untuk menyelesaikan masalah atau tugas-tugas ketika berada di bawah bimbingan orang dewasa atau ketika berkolaborasi dengan teman sebaya yang lebih kompeten. Batas jarak antara tingkat perkembangan aktual dan potensial yaitu pada aktivitas dari daerah perkembangan yang terdekat atau dapat disebut juga zona perkembangan proksimal.

ZPD adalah konsep penting yang berkaitan dengan antara apa yang dapat dicapai seorang anak secara mandiri dan apa yang dapat dicapai anak dengan bimbingan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih kompeten. Oleh karena itu, Vygotsky berfokus lebih dekat pada interaksi sosial sebagai bantuan untuk belajar dengan alasan bahwa jika dibiarkan sendiri, anak-anak akan berkembang—tetapi tidak secara maksimal. Fokus Vygotsky tersebut merujuk pada kesenjangan antara pembelajaran aktual dan potensial sebagai zona perkembangan proksimal. Ia juga berpendapat bahwa hanya melalui kolaborasi dengan orang dewasa dan pelajar lain, kesenjangan ini dapat dijembatani (Mcleod, 2023).

Scaffolding merupakan dukungan yang diberikan orang tua, guru, dan orang dewasa lainnya kepada anak dalam melakukan sebuah tugas sampai anak tersebut dapat melakukannya sendiri. Vygotsky mengemukakan empat tahapan ZPD yang terjadi dalam perkembangan anak, (Sujiono, 2019), yaitu sebagai berikut.

1.       Tindakan anak masih dipengaruhi atau dibantu orang lain. Misalnya, anak yang masih dibantu    memakai baju, sepatu, dan kaus kaki ketika berangkat sekolah.

2.       Tindakan anak didasarkan atas inisiatif sendiri. Misalnya, anak yang mulai berkeinginan mencoba memakai baju, sepatu, dan kaos kaki sendiri tetapi masih sering keliru memakai sepatu antara kiri dan kanan. Memakai baju pun membutuhkan waktu yang lama karena keliru memasangkan                kancing.

3.       Tindakan anak berkembang secara spontan dan terinternalisasi atau melakukan sesuatu tanpa adanya perintah dari orang dewasa. Misalnya, anak yang setiap pagi sebelum berangkat sekolah sudah paham tentang apa saja yang harus dilakukannya, seperti memakai baju kemudian kaos kaki dan sepatu.

4.       Tindakan spontan dan diulang-ulang hingga anak siap untuk berpikir secara abstrak. Terwujudnya perilaku yang otomatisasi membuat anak secara cepat dapat melakukan sesuatu tanpa contoh, tetapi berdasarkan kemampuannya dalam mengingat urutan suatu kegiatan. Bahkan, ia dapat menceritakan kembali apa yang dilakukannya di pagi hari saat hendak berangkat ke sekolah.

 

        c.    Private Speech

Menurut Vygotsky, kunci utama untuk memahami proses sosial psikologis adalah tanda-tanda atau lambang-lambang yang berfungsi sebagai mediator. Tanda dan lambang merupakan produk dari lingkungan sosiokultural tempat seseorang berada. Mekanisme hubungan antara pendekatan sosiokultural dan fungsi-fungsi mental didasari oleh tema mediasi semiotik. Artinya, tanda atau lambang beserta makna yang terkandung di dalamnya berfungsi sebagai penghubung antara rasionalitas-sosiokultural (intermental) dan individu sebagai tempat berlangsungnya proses mental (Wertsch, 1990).

    Elemen-elemen yang terdiri atas ucapan, bunyi suara, tipe percakapan sosial, dan dialog secara kontekstual berada dalam batasan sejarah, kelembagaan, budaya, dan faktor individu. Vygotsky meyakini bahwa bahasa memainkan peranan besar dalam perkembangan kognisi. Bahasa merupakan alat mental yang berfungsi sebagai mekanisme aktual untuk berpikir. Bahasa membuat pemikiran lebih abstrak, luwes, dan terbebas dari rangsangan yang bersifat sementara. Ketika anak-anak menggunakan simbol dan konsep untuk berpikir, mereka tidak selamanya membutuhkan kehadiran objek-objek agar dapat berpikir. Bahasa menjadikan anak-anak berimajinasi, mengubah (memanipulasi), menciptakan gagasan-gagasan baru, dan membagi gagasan-gagasan itu dengan anak lainnya.

      Struktur mental atau kognitif anak terbentuk dari hubungan antara fungsi-fungsi mental. Hubungan antara bahasa dan pemikiran diyakini sangat penting dalam kaitannya. Kemahiran berbahasa dapat berfungsi untuk hal-hal berikut.

1) Sumber berpikir. Vygotsky berpendapat bahwa seorang anak pertama kali menggunakan bahasa dalam melakukan interaksi sosial yang dangkal. Namun, lambat laun, bahasa akan menjadi bentuk dari cara anak berpikir.

2) Mengetahui makna dan bentuk konsep. Seorang anak menyadari bahwa bahasa merupakan segala sesuatu yang mempunyai makna. Masing-masing individu menggunakan objek atau ide yang sesuai dengan situasi masalah dalam menjelaskan masalah tersebut dengan menamai objek tersebut. Ketika kehilangan kata untuk objek yang baru, ia akan meminta pada orang dewasa. Kata pertama yang diperoleh anak akan menjadi bentuk sebuah konsep.

3) Konstruktivisme sosial. Kemampuan kognitif dan pola pikir bukanlah dasar yang ditentukan oleh faktor bawaan, melainkan hasil dari aktivitas atau lingkungan tempat individu tersebut tinggal. Bahasa adalah alat penting untuk mengetahui bagaimana anak akan belajar untuk berpikir. Sebab, gagasan (ide) yang diperolehnya akan diteruskan dalam bentuk arti kata.


Posting Komentar

0 Komentar