Jean Piaget lahir di Neuchatel, Swis, pada tanggal 9 Agustus 1896 dan wafat pada tanggal 16 September 1980 diusia 84 tahun. Jean Piaget merupakan seorang filsuf, ilmuwan, dan psikolog perkembangan di Swis yang terkenal dengan hasil penelitiannya tentang anak-anak dan teori perkembangan kognitifnya. Jean Piaget merancang suatu model yang mendeskripsikan bagaiman manusia mamahami dunianya dengan mengumpulkan dan mengorganisasi informasi. Teori kognitif Piaget akan memberikan bagaimana manusia berpikir, mulai dari bayi hingga dewasa. Terdapat perbedaan cara berpikir orang dewasa dengan anak- anak. Misalnya, konsep tentang waktu. Seorang anak dapat berpikir bahawa suatu saat mereka akan mengejar ketertinggalan dan menyamai umur kakaknya atau mereka bingung dengan masa lalu dan masa depan (Suryana, 2016).
Pada
dasarnya, Piaget percaya bahwa manusia menciptakan pemahamannya sendiri
tanentang dunia. Teori kognitif Piaget menyatakan bahwa anak secara aktif
membangun pemahamamn mengenai dunia melalui empat tahap perkembangan kognitif.
Pembahasan pada bab ini akan menunjukkan secara singkat pikiran-pikiran utama
dari teorinya.
Dua proses mendasari
perkembangan-perkembangan tersebut Adalah organisasi dan adaptasi. Dalam
memahami dunia, seseorang mengorganisasi pengalaman-pengalamannya, seperti
memisahkan pikiran penting dari yang kurang penting, dan menghubungkan satu
pikiran dengan yang lain. Dengan mengoranisasi pengamatan dan pengalaman,
seseorang telah melakukan adaptasi (menyesuaikan) pemikirannya dengan ide-ide
baru.
Piaget percaya bahwa pembelajaran
disebabkan oleh perpaduan dua proses, yaitu asimilasi dan akomodasi. Anak-anak
pada awalnya akan memikirkan pengalaman yang mereka dapatkan sebelumnya untuk
memahami konsep baru. Mereka akan menyesuaikan harapan dan pengalaman
sebelumnya untuk memasukkannya ke konsep baru tersebut. Artinya, anak-anak
secara terus-menerus membangun pengetahuan berdasarkan ide-ide baru yang
disajikan dan yang mengarah pada perubahan jangka panjang. Piaget fokus pada
perkembangan kognitif yang disajikan dari waktu ke waktu (Serhat Kurt, 2020).
Asimilasi terjadi saat anak menggunakan informasi baru ke dalam pengetahuan
yang telah mereka miliki. Akomodasi terjadi saat anak menyesuaikan pengetahuan
mereka agar cocok dengan informasi dan pengalaman baru. Misalnya, anak pertama
kali diberi sebuah paku dan palu untuk menggantung sebuah lukisan di dinding.
Ia pertama kali memukul menggunakan palu. Namun, dari pengalaman yang ia alami,
ia mengetahui bahwa palu adalah benda yang harus dipegang diayunkan gagangnya
untuk memukul paku, dan biasanya dipukul lebih berapa kali. Karena mengetahui
hal ini, maka ia menyesuaikan tugas barunya ke dalam pengetahuan yang telah ia
miliki (asimilasi). Meskipun demikian, palu adalah benda berat. Karena ia
memegangnya terlalu ke atas dan mengayunkan terlalu keras, maka pakunya
bengkok. Lalu, ia menyesuaikan tekanan pukulannya agar pakunya tidak bengkok.
Penyesuaian ini menunjukkan kemampuannya mengubah pengetahuannya (akomodasi).
Piaget juga percaya bahwa
seseorang melalui empat tahap dalam memahami dunia. Setiap tahap berhubungan
dengan usia dan cara berpikir yang berbeda-beda. Cara pemahaman dunia yang
berbeda inilah yang membuat suatu tahap lebih maju dari tahap yang lain. Mengetahui
lebih banyak informasi tidak menjadikan cara berpikir anak lebih maju dalam
pandangan Piaget. Pernyataan ini menjelaskan bahwa kognisi anak akan berbeda
secara kualitatif dalam satu tahap dibandingkan tahap yang lain.
1. Tahap Perekmbangan Kognitif Menurut Jean Piaget
a. Tahap sensorimotor (0-2 Tahun)
Periode
paling awal disebut tahap sensorimotor, karena pemikiran anak melibatkan
penglihatan, pendengaran, gerak/pemindahan, perabaan, pengecapan, dan
lain-lain. Pada tahap ini, anak membangun pemahaman mengenai dunia dengan
mengoordinasikan pengalaman sensoris (melihat dan mendengar) dengan tindakan
fisik dan motorik, karena itulah disebut sensorimotor.
Pada awal tahap ini, bayi yang baru lahir
memiliki lebih dari sekadar pola-pola refleks untuk dapat melakukan sesuatu.
Pada akhir tahap ini, anak umur 2 tahun memiliki pola sensorimotor kompleks dan
mulai menggunakan simbol-simbol sederhana.
Selama periode ini, bayi mengembangkan
permanensi objek, yaitu pemahaman bahwa objek masih ada di lingkungan terlepas
dari apakah mereka ada atau tidak. Hal ini merupakan awal kemampuan penting
untuk mengonstruksikan representasi mental. Sebelum bayi mengembangkan
permanensi objek, bayi percaya bahwa benda yang tidak tampak menghilang
sepenuhnya dari dirinya. Taktiknya adalah dengan mendistraksi si bayi dan
mengambil objek yang dimaksud ketika ia tidak melihat atau dapat disebut juga
dengan out of sight. Sebuah bola yang menggelinding dan menghilang dari
penglihatan bayi
membuat
bayi tersebut tetap mencari bola yang hilang dari pandangannya. Hal ini
mengindikasikan suatu pemahaman bahwa objek itu masih ada meskipun tidak dapat
dilihatnya (Moore & Meltzoff, 2004).
b. Tahap Praoprasional (2-7 Tahun)
Tahap
praoperasional terjadi mulai dari usia dua hingga tujuh tahun. Artinya,
kegiatan imajinatif didorong dari prasekolah sampai kelas dua jenjang sekolah
dasar. Permainan drama dianggap sebagai salah satu demonstrasi pertama
metakognisi pada anak-anak atau pemikiran ganda. Saat terlibat dalam permainan
imajinatif, anak-anak secara bersamaan merefleksikan pengalaman realistis
(Serhat Kurt, 2020). Anak-anak mulai menjelaskan dunia dengan kata-kata dan
gambar. Kata-kata dan gambar mencerminkan peningkatan pemikiran simbolis serta
melampaui hubungan informasi sensoris dan tindakan fisik.
Pada tahap praoperasional, anak
belum menunjukkan pemecahan masalah atau pemikiran logis. Anak pada usia ini
juga menunjukkan animisme. Mereka menganggap mainan dan benda mati lainnya
memiliki perasaan dan hidup seperti manusia. Misalnya, seorang anak sedang
bermain boneka kelinci dan berpura-pura mengajak berbicara serta memberinya
makanan wortel karena ia menganggap bahwa boneka kelinci tersebut hidup seperti
dirinya. Tahap praoperasional ini juga ditandai dengan anak dapat melepaskan
proses berpikirnya dari dunia fisik. Namun, mereka masih belum mampu
mengembangkan keterampilan berpikir operasional atau logis tahap selanjutnya.
Pada tahap ini, pemikiran mereka masih egosentris (berpusat pada pandangan
dunia mereka sendiri) dan intuitif (berdasarkan penilaian subjektif anak-anak
tentang apa yang mereka lihat).
c. Tahap Oprasiaonal Konkret
(7-11 Tahun)
Pada tahap ini, anak
mulai menunjukkan pemikiran logis tentang kejadian-kejadian konkret. Mereka
mulai memahami konsep konservasi. Mereka mengerti bahwa meskipun segala
sesuatunya berubah dalam penampilan, beberapa sifat masih tetap sama. Anak-anak
pada tahap ini dapat membalikkan keadaan secara mental. Mereka mulai memikirkan
perasaan dan pemikiran orang lain. Pada tahap ini, egosentris mereka juga
berkurang.
Anak
dapat menalar secara logis mengenai kejadian konkret dan menggolongkan benda ke
dalam kelompok yang berbeda-beda. Pada tahap ini, anak dapat menerapkan
pengalaman yang telah mereka dapatkan sebelumnya. Penalaran logis mereka
menggantikan pikiran intuitif selama penalaran dapat diterapkan pada contoh
khusus dan konkret. Menurut Piaget, tahap ini merupakan titik balik
perkembangan kognitif anak yang signifikan karena menandai titik awal pemikiran
operasional atau logis. Contohnya, pemikir operasional konkret tidak dapat
membayangkan langkah-langkah yang di perlukan
untuk menyelesaikan soal persamaan aljabar yang terlalu abstrak bagi
pemikiran tahap perkembangan ini.
Pikiran
anak-anak yang cenderung sangat konkret menjadi jauh lebih logis dan canggih
selama tahap perkembangan ini. Selagi penting untuk diri anak tersebut, tahap
ini juga berfungsi sebagai transisi penting dari tahap awal perkembangan dan
tahap mendatang ketika mereka akan belajar bagaimana cara berpikir lebih
abstrak dan hipotetis.
Pemikiran
abstrak, juga dikenal sebagai penalaran abstrak, melibatkan kemampuan anak
untuk memahami dan berpikir tentang konsep kompleks yang meski nyata, tidak
terikat pada pengalaman, objek, orang, atau kejadian konkret. Pemikiran abstrak
dianggap sebagai jenis pemikiran tingkat tinggi, biasanya tentang ide dan
prinsip yang sering kali simbolis atau teoretis. Jenis pemikiran ini lebih
kompleks daripada jenis pemikiran yang berfokus pada menghafal dan mengingat
kembali informasi dan fakta.
Contoh
konsep abstrak termasuk: persahabatan, kebebasan, kecemburuan, kesuksesan,
cinta, pertumbuhan, kebahagiaan, harapan, dan kebijaksanaan. Hal-hal ini nyata,
tetapi tidak konkret. Hal-hal fisik dapat dialami manusia secara langsung
melalui indra. Contoh pemikiran abstrak yang mudah ditemukan yaitu saat
stand-up comedian menggunakan pemikiran abstrak. Mereka mengamati perilaku
absurd atau tidak logis di dunia dan mengemukakan teori tentang mengapa orang
bertindak seperti itu. Dalam menulis puisi atau esai, seseorang juga
menggunakan pemikiran abstrak.
Semua
contoh ini menunjukkan bahwa konsep yang teoretis dan tidak berwujud dapat
diterjemahkan menjadi lelucon, keputusan, atau karya seni.
d. Tahapa Oprasional Formal (11
Tahun-Dewasa)
Pada tahap terakhir
Piaget, anak menjadi mampu menalarakan tidak hanya tentang objek dan peristiwa
nyata, tetapi juga tentang hal-hal hipotetis atau abstrak. Oleh karena itu, ia
memiliki nama tahap operasional formal-periode ketika individu dapat “beroperasi”
pada “bentuk” atau representasi.Dengan siswa pada level ini, guru dapat
mengajukan masalah hipotetis (atau berlawanan dengan fakta). Tahap operasional
formal muncul antara umur 11–15 tahun. Pada tahap ini, pemikiran seorang
individu sudah lebih melampaui dari pengalaman konkret serta pikiran yang
abstrak dan lebih logis. Remaja melakukan penalaran dengan cara yang lebih
abstrak, idealis, dan logis.

0 Komentar