KARAKTERISTIK PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI



Sebagian besar psikolog, khususnya ahli kognitif (psikolog kognitif), berpendapat bahwa perkembangan kognitif manusia dimulai sejak lahir. Bekal dan modal dasar pertumbuhan manusia berpikir bahwa aktivitas kognitif dapat memengaruhi kemampuan motorik dan sensoris sampai batas tertentu. Hubungan antara sel-sel otak dan pertumbuhan bayi dimulai saat ia berusia lima bulan, yaitu ketika kemampuan indranya (seperti penglihatan dan pendengaran) mulai muncul.

       Berikut ini adalah penjelasan rinci tentang karakteristik perkembangan kognitif anak usia dini.

1.    Karakteristik Tahap Sensorimotor


Tahapan sensorimotor dibedakan oleh ciri-ciri penting sebagai berikut.

a.   Anak masih bertindak secara naluriah.

b.  Tindakan pengalaman sebagian besar terfokus pada persepsi sensoris.

c.  Mampu merasakan dan menyerap pengalaman, tetapi mereka tidak dapat mengategorikannya.

d.  Melalui sistem sensori motornya, anak mulai belajar memanipulasi benda-benda konkret.


 

Untuk lebih mendefinisikan karakteristik dari tahap sensorimotor, terdapat enam bagian dengan

Serangkaian karakteristik keunikannya, yaitu sebagai berikut.

a.      Fase pertama (0–1 bulan) meliputi ciri-ciri sebagai berikut.

         1)   Anak memiliki kemampuan untuk bereaksi secara refleks.

         2)   Anak dapat menggerakkan anggota tubuhnya meskipun kurang koordinasi.

         3)   Anak dapat menerima dan mengakomodasi berbagai sinyal dari lingkungannya.

b.    Fase kedua (1–4 bulan) mencakup sifat-sifat yang memungkinkan anak memperluas skema   mereka tergantung pada genetika.

c.    Fase ketiga (4–8 bulan) dibedakan oleh fakta bahwa anak mulai memahami hubungan antara penanganan mereka terhadap objek dan konsekuensi yang ditimbulkannya.

d.      Fase keempat (8–12 bulan) meliputi ciri-ciri sebagai berikut.

        1)   Anak memahami bahwa barang-barang terus ada meskipun sesaat menghilang dan muncul di kemudian hari.

         2)   Anak mulai mau mencoba hal-hal baru.

         3)   Anak dapat membedakan tujuan kegiatan tanpa bergantung pada orang tua mereka.

e.      Fase kelima (12-18 bulan ) meliputi ciri-ciri sebagai berikut.

         1)   Anak mulai meniru satu sama lain.

         2)   Anak dapat melakukan pengujian lingkungan yang beragam dengan lebih lancer.

f.      Fase keenam (18-24 bulan ) meliputi ciri-ciri berikut.

         1)   Anak akan mulai mengingat dan berpikir sendiri.

         2)   Anak akan dapat berpikir dengan menggunakan simbol-simbol linguistik dasar.

         3)  Anak dapat memikirkan dan memecahkan masalah kecil berdasarkan Tingkat perkembangan-

              nya

         4)   Anak dapat memandang dirinya sebagai individu yang berkembang.

 

2.    Karakteristik Tahapan Praoperasional

Tahapan praoperasional dibedakan dengan ciri-ciri sebagai berikut.

a.     Anak dapat menggabungkan dan mengubah berbagai pengetahuan

b.    Anak dapat memberikan penjelasan untuk mengungkapkan pikiran.

c.    Anak telah mengenali hubungan sebab dan akibat dalam kejadian nyata, meskipun penalaran sebab dan akibat itu salah

d.  Pemikiran individu bersikap egosentris yang digunakan dengan perilaku yang imaginative, bebahasa egosenttris, memiliki aku yang tinggi, dorongan keingintahuan yang besar terhadap sesuatu, dan pesatnya perkembangan bahasa.

 

3.     Karakteristik Tahap Oprasional Konkret

Beberapa karakteristik utama dari tahap operasional konkret Adalah sebagai berikut.

a.    Kemampuan opersional. Pada tahap ini, anak mulai mengembangkan kemampuan untuk melakukan operasi mental pada hal-hal fisik dan kejadian nyata. Mereka memiliki kemampuan untuk memanipulasi hal-hal dan konsep-konsep tertentu dalam pikiran mereka. Misalnya, mereka dapat mengurutkan, mengategorikan, membandingkan, dan mengelompokkan hal-hal berdasarkan kualitas tertentu.

b.   Pemahaman logika dan prinsip matematika. Pada tahap ini, anak-anak mulai memahami ide-ide logis dasar, seperti keteraturan, keselarasan, dan konversi. Mereka dapat menjawab masalah tertentu dengan menerapkan konsep matematika, seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian.

c.   Pemahaman kausalitas. Pada tahap operasional konkret, anak-anak mulai memahami interaksi sebab dan akibat. Mereka memahami bahwa beberapa peristiwa atau aktivitas dapat memiliki efek atau hasil langsung. Pada tahap ini, mereka terus bergumul dengan hubungan kausal yang rumit atau abstrak.

d.   Pemahaman ruang dan waktu. Anak-anak pada tahap operasional konkret mulai memahami ruang dan waktu dengan lebih baik. Mereka mampu mengenali urutan temporal dan menggambarkan hal-hal dalam koneksi spasial yang rumit. Pada tahap ini, mereka terus bergumul dengan konsepsi waktu yang lebih abstrak, seperti waktu relatif dan konsep waktu mendatang.

e.    Pemahaman sosial. Pada tahap ini, anak-anak belajar memahami ikatan sosial yang lebih rumit dan dapat menghargai sudut pandang orang lain dalam keadaan sebenarnya. Mereka dapat melihat bahwa orang lain memiliki pendapat, tujuan, dan perasaan yang berbeda dari mereka sendiri. Pada tahap ini, mereka terus berjuang untuk memahami sudut pandang orang lain dalam keadaan abstrak.

 

Menurut karakteristik tersebut, anak-anak pada tahap operasional konkret berpikir lebih metodis dan rasional daripada anak-anak pada tahap sebelumnya, tetapi masih terbatas pada pengetahuan konkret dan barang-barang yang berhubungan dengan dunia fisik. Tahap ini sangat penting dalam perkembangan kognitif anak karena dapat mempersiapkan mereka untuk kemampuan berpikir yang lebih rumit di kemudian hari.

Posting Komentar

0 Komentar