1.
Pengartian Berpikir Kritis
Berpikir
kritis adalah perolehan intelektual dan keterampilan melalui upaya pengetahuan,
kualitas, dan kedalaman pengalaman yang gigih dalam bidang pemikiran.
Mengajarkan berpikir dapat merangsang dan menantang intelektual anak. Siswa
termotivasi dan terlebih terlibat di dalam kelas ketika guru menstimulasi
intelektual dan pemikiran mereka (Yazar Soyadi, 2015). Oleh karena itu,
kemampuan berpikir kritis dapat diterapkan oleh pendidikan di kelas untuk
merangsang kemampuan intelektual anak melalui kegiatan yang memancing rasa ini tahu dan eksplorasi anak.
Siswa
yang dihadapkan pada masa depan di dunia yang tidak dapat di prediksi dan di
era digital baru perlu memperoleh keterampilan dalam bernalar, membuat
keputusan, serta memecahkan masalah dalam kehidupan dan pembelajaran mereka.
Penting untuk memiliki lingkungan belajar yang tepat yang mendorong pemikiran
kritis anak-anak (Wong Li Jean dan Yoe Kee Jiar, 2012). Oleh karena itu,
sekolah harus menjadi tempat yang menyediakan sumber daya intelektual yang kaya
untuk membantu siswa menjadi pemikir yang lebih baik. Namun, praktik umum
transfer pengetahuan, seperti lembar kerja tanpa akhir, lulus tes, dan fokus
pada skir buku teks dalam pengaturan ruang kelas, tradisional, masih terjadi di
sekolah (Shek, 2017).
2.
Pengertian Berpikir Kreatif
Berpikir
kreatif dapat didefinisikan sebagai keseluruhan rangkaian aktivitas kognitif
yang digunakan oleh individu sesuai dengan objek, masalah, dan kondisi
tertentu. Definisi lainnya yaitu suatu jenis usaha terhadap peristiwa dan
masalah tertentu. Berdasarkan kapasitas individu tersebut (Yazar Soyadi, 2015).
Mereka menggunakan imajinasi, kecerdasan, wawasan dan gagasan ketika
mereka menghadapi situsi seperti itu. Selain itu, mereka menyarankan desain yang
autentik dan baru, menghasilkan hipotesis yang berbeda, memecahkan masalah
dengan bantuan menemukan aplikasi baru ketika setiap individu menyadari
kekurangan pengetahuannya, serta mencoba menjabati kesenjangan ini sambil
memperoleh sudut pandang baru. Kesenjangan ini dapat dijembati dengan melihat
masalah dari berbagai perspektif dengan bantuan membuat koneksi yang
tidak biasa dan mengambil risiko berdasarkan wawasan mereka. Hal ini dilakukan
untuk menghasilkan solusi alternatif terhadap masalah atau situasi dengan
kesabaran dan tekad yang tinggi.
Secara
umum, terdapat korelasi antara berpikir kreatif dan berpikir kritis serta
pemecahan masalah. Terdapat tiga dimensi pemikiran kreatif, yaitu sintesis,
artikulasi, dan imajinasi yang memiliki kualitas sebagai berikut (Dean &
Cheetham, 2013).
a.
Sintesis.
Dimensi ini mencakup berbagai kegiatan seperti mendapatkan manfaat dari
pemikiran analog, menyimpulkan hasil dari bagian-bagian kecil, serta menyajikan
saran baru dan autentik untuk solusi masalah.
b.
Artikulasi.
Dimensi ini melibatkan pembentukan pengetahuan lama dan baru atau memperluas
pengetahuan dan saat ini dengan bantuan yang baru. Dimensi ini juga dapat
membangun hubungan yang tidak biasa untuk menghasilkan solusi autentik dan
membuat pemikiran konkret dengan bantuan imajinasi dan penggunaan bahan.
c.
Imajinasi.
Dimensi ini terdiri dari atas membangun hubungan antar pemikiran yang valid dan
dapat diandalkan serta menghadirkan cara berpikir yang fleksibel dengan bantuan
imajinasi untuk memunculkan wawasan yang berbeda selama proses pembentukan
ide.
3.
Keterkaitan antar Kreativitas dan Kemampuan Berpikir
Kritis
Hubungan antar
kreativitas dan kecerdasan telah dibahas oleh para peneliti. Mereka melihat
aktivitas dan kecerdasan sebagai bagian integral dari intelijen atau sebagai
entitas yang terpisah tetapi terkait. Terdapat sedikit korelasi antar
kreativitas dan skor IQ. Kreativitas adalah fitur kunci manusia. Penting untuk
disadari bahwa kreativitas peserta didik tidak disediakan selama proses
pertumbuhan berlangsung.implikasinya adalah sekolah perlu memelihara pentingnya
kreativitas siswa dan para guru secara eksplisit di dalam lembaga tersebut
(Yazar Soyadi, 2015).
Kreativitas
dan pemikiran kritis saling berkaitan ketika seseorang ingin memahami situasi
baru. Saat sesesorang mangalami sebuas permasalahan baru, ia akan menggunakan
pemikiran kritis, logis, serta kreatif untuk menemukan solusi dari permasalahan
yang dihadapi. Seperti contoh, ketika seorang anak sedang belajar pemecahan
masalah dalam menata balok menjadi menara, anak berpikir kritis bagaimana caranya
agar balok yang ditata tidak roboh. Anak akan melakukan trial error dalam
menata balok sampai dia dapat berpikir kreatif dalam membuat menara agar tidak
roboh. Anak akan menata balok dari balok yang berukuran besar ke balok yang
berukuran kecil. Inilah contoh bukti keterkaitan antara kreativitas dan
pemikiran kritis seseorang.
Keterampilan
biasanya dikaitakan dengan pemikiran kritis. Berpikir bermanfaat disebut
sebagai fitur kesadaran kritis seseorang yang dapat dinilai melalui (Shek,
2017):
a.
Kemampuan
untuk menganalisis isu dan masalah yang kompleks;
b.
Pengakuan
dari sudut pandang dan asumsi yang berbeda;
c.
Keterampilan
mengevaluasi terhadap berbagai kriteria yang diterima;
d.
Mampu
membuat dan menarik kesimpulan berdasarkan informasi yang tersedia;
e.
Kemampuan
untuk mentransfer keterampilan diluar batas mata pelajaran; dan
f.
Mampu
melihat keterkaitan ide dan wawasan.
Kreativitas dan
pemikiran kritis sangat berkaitan erat dan saling bekerja sama. Mereka dapat
dilihat sebagai dua sisi dari mata uang yang sama. Di dalam kelas, harus ada
kesadaran akan fitur, fungsi, dan kekuatan masing-masing. Bagian dari
pembahasan yang ada di kelas kreatif adalah pemahaman tentang bagaimana
masing-masing jenis berpikir bekerja antara pendidik dan peserta didik.
Pemikiran kritis
merupakan tujuan dari penilaian reflektif tentang apa yang harus dipercaya atau
apa yang harus dilakukan. Pemikiran kreatif adalah fungsi dari kecerdasan dan
mengambil banyak bentuk. Kreativitas adalah ke- mampuan untuk menghasilkan sesuatu
yang baru melalui keterampilan ima- jinatif. Dua aspek penting dari kreativitas
yaitu mengumpulkan dan menyerap informasi (berpikir kritis) yang mengarah pada
transformasi pengetahuan ini untuk menghasilkan ide-ide baru atau berpikir
kreatif (Padget, 2012).
4.
Implementasi Teori Berpikir Kritis dan Berpikir Kreatif di
PAUD
Dalam praktik
pendidikan anak usia dini, pendidik harus menanamkan unsur keterampilan
berpikir kritis dan kreatif dalam kurikulum. Hubungan antara kreativitas,
praktik pedagogis, dan kategori kreativitas yang dipupuk dalam pendidikan
didasarkan pada kerangka pedagogis kreatif yang terdiri atas pengajaran
kreatif, pengajaran untuk kreativitas, dan pembelajaran kreatif. Oleh karena
itu, praktik dan pengalaman guru dalam berpikir kritis penting untuk diterapkan
di sekolah.
Pendidik
dengan keterampilan berpikir kritis yang menerapkannya dalam kehidupannya
sendiri dapat lebih efektif dalam lingkungan belajar yang berbasis pemikiran
kreatif. Selain itu, pendidik juga harus menjadi model bagi siswa tentang
keterampilan berpikir mereka. Sternberg (2003) menekankan bahwa bagi seorang
pendidik sangat penting menjadi model bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan
berpikirnya.
Contoh
penerapan berpikir kritis dan berpikir kreatif bagi anak adalah melalui
kegiatan bermain dengan bahan-bahan loose part. Pendidik dapat melakukan
invitasi dengan bahan-bahan loose part yang terdiri dari tujuh komponen,
seperti bahan bekas kemasan, logam, kain, bahan alam, dan bahan lain di sekitar
anak. Selanjutnya, pendidik memberikan kata-kata "provokasi" sesuai
invitasi dan tema yang sedang dipelajari anak. Misal, pada tema binatang
peliharaan, anak-anak diberi kata-kata provokasi, "Kandang binatang
seperti apa yang kamu inginkan?" atau, "Yuk, buat binatang
peliharaanmu!" atau kata-kata "provokasi" lain yang memancing ide
anak untuk berpikir kritis dan kreatif dalam membuat karya. Anak- anak akan
diberikan kebebasan penuh untuk menentukan sendiri benda yang dibuatnya.
Kemudian, pendidik meminta anak untuk menceritakan hasil karya yang dibuat
anak.
0 Komentar