MEDIA PEMBELAJARAN DALAM PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI

 


A.    PENGERTIAN MEDIA PEMBELAJARAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI

Kata media berasal dari bahasa Latin (bentuk jamak dari medium) yang secara harfiah berarti perantara atau pengantar. Menurut Asosiasi Pendidikan Nasional (National Education Association/NEA), media adalah bentuk komunikasi, baik cetak maupun audiovisual, yang hendaknya dapat dimanipulasi, dilihat, didengar, dan dibaca (Sadiman et. al., 2018). Jika dikaitkan dengan pembelajaran, media dapat dipahami sebagai bahan atau peristiwa yang menetapkan kondisi yang memungkinkan peserta didik memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan sikap (Jacob, 2006).

         Media dalam pembelajaran merupakan alat bantu dalam kegiatan belajar mengajar yang dapat merangsang minat dan membangkitkan motivasi anak didik dalam mengikuti proses pembelajaran (Srianis, Suarni, dan Ujianti, 2014). Pemakaian media pembelajaran dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap anak (Hartati, Wirya, dan Ambara, 2014). Media pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat digunakan untuk menyampaikan pesan dari pengirim pesan kepada penerima pesan sehingga dapat merangsang pikiran, perasaan, dan perhatian anak didik untuk tercapainya tujuan pendidikan (Fridani dan Dhieni, 2014).

         Media pembelajaran dalam kaitannya dengan pendidikan anak usia dini (AUD) berarti segala sesuatu yang dapat dijadikan bahan (software) dan alat (hardware) untuk bermain yang membuat anak mampu memperoleh pengetahuan, keterampilan, dan menentukan sikap (Latif, 2013). Media pembelajaran dalam pengembangan kognitif anak usia dini merupakan pemanfaatan media dalam mengembangkan kemampuan kognitif anak sesuai tujuan/capaian yang diharapkan.

 

B.    FUNGSI MEDIA PEMBELAJARAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI

Secara garis besar, media berfungsi untuk: 1) menghindari terjadinya verbalisme; 2) membangkitkan minat/motivasi; 3) menarik perhatian peserta didik; 4) mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan ukuran; 5) mengaktifkan peserta didik dalam kegiatan belajar; serta 6) mengefektifkan pemberian rangsangan untuk belajar (Mudlofir and Rusydiyah, 2016). Media pembelajaran berfungsi mempercepat proses belajar dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran (Zaman, 2014).

         Pendapat lain mengemukakan bahwa terdapat empat fungsi media pembelajaran khususnya media visual. Pertama, fungsi atensi, yaitu menarik dan mengarahkan perhatian peserta didik berkonsentrasi kepada materi. Kedua, fungsi afektif, yaitu dapat dilihat dari tingkat kenikmatan peserta didik ketika belajar. Ketiga, fungsi kognitif, yaitu terlihat dari pencapaian tujuan untuk memahami dan mengingat informasi atau pesan. Keempat, fungsi kompensatoris, yaitu terlihat dari kemampuan anak untuk mengorganisasikan informasi dan mengingatnya kembali (Arsyad, 2015).

         Selain itu, terdapat banyak manfaat yang diperoleh dengan memanfaatkan media dalam pembelajaran kognitif, di antaranya:

1.   pesan/informasi pembelajaran dapat disampaikan dengan lebih jelas, menarik, konkret, dan tidak hanya dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan belaka (verbalistis);

2.    mengatasi keterbatasan ruang, waktu, dan daya indra;

3.    meningkatkan sikap aktif siswa dalam belajar;

4.    menimbulkan kegairahan dan motivasi dalam belajar;

5.    memungkinkan interaksi yang lebih langsung antara siswa, lingkungan, dan kenyataan;

6.    memungkinkan siswa belajar sendiri menurut kemampuan dan minatnya; serta

7.    memberikan perangsang, pengalaman, dan persepsi yang sama bagi siswa (Zaman dan Eliyawati, 2010).

         Penggunaan media pembelajaran dalam proses pembelajaran akan lebih menarik perhatian anak sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar (Syarfina, 2020). Selain itu, bahan pembelajaran akan lebih jelas maknanya sehingga memahaminya akan lebih mudah serta memungkinkannya menguasai dan mencapai tujuan pembelajaran. Melalui satu jenis media, guru dapat mengaplikasikan metode mengajar tidak hanya komunikasi verbal, tetapi juga lebih bervariasi. Anak juga dapat lebih banyak melakukan aktivitas lain, seperti mengamati, melakukan, mendemonstrasikan, dan memerankan (Arsyad, 2015).

         Beberapa fungsi penerapan media dalam pengembangan kemampuan kognitif anak, yaitu: 1) merangsang anak melakukan kegiatan, pikiran, perasaan, perhatian, dan minat; 2) bereksperimen; 3) menyelidiki atau meneliti; 4) sebagai alat bantu; 5) alat peraga untuk memperjelas sesuatu; 6) mengem- bangkan imajinasi; serta 7) melatih kepekaan berpikir digunakan sebagai alat permainan. Media pembelajaran di dalam proses belajar mengajar adalah memperjelas penyajian pesan dan informasi sehingga dapat memperlancar dan meningkatkan proses dan hasil belajar. Media pembelajaran meningkatkan dan mengarahkan perhatian anak sehingga dapat menimbulkan motivasi belajar.

         Bagi pengajar/pendidik anak usia dini, media pembelajaran berfungsi untuk: 1) mencapai tujuan pembelajaran; 2) menjelaskan struktur dan urutan pengajaran dengan baik; 3) memberikan kerangka sistematis; 4) memudahkan penyampaian materi pembelajaran; 5) membantu kecermatan dan ketelitian dalam penyajian materi; 6) membangkitkan rasa percaya diri pengajar; dan 7) meningkatkan kualitas pembelajaran.

         Sementara bagi anak usia dini, media pembelajaran memiliki fungsi, yaitu: 1) meningkatkan motivasi belajar; 2) memberikan dan meningkatkan variasi belajar; 3) memberikan inti informasi pelajaran; 4) merangsang pembelajar untuk mempelajari dan menganalisis sesuatu; 5) menciptakan kondisi dan situasi belajar tanpa tekanan; serta 6) memahami materi pelajaran dengan sistematis yang disajikan pengajar (Khadijah, 2016).

 

C.    PRINSIP MEDIA PEMBELAJARAN PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI

Dalam mengembangkan sebuah media pembelajaran, perlu diperhatikan beberapa prinsip agar media tersebut memberikan pengaruh efektif dalam pencapaian tujuan pembelajaran kognitif. Pertama, sederhana. Media pembelajaran tidak perlu mahal, yakni dapat berbentuk media sederhana, tetapi merangsang anak terlibat aktif. Kedua, penekanan. Konsep yang ingin disajikan memerlukan penekanan terhadap salah satu unsur yang akan menjadi pusat perhatian anak dengan menggunakan ukuran, hubungan-hubungan, perspektif, warna, atau ruang. Ketiga, keterpaduan. Media dan materi mengacu kepada hubungan yang saling terkait dan menyatu sebagai suatu keseluruhan yang dapat dikenal dan membantu penyampaian pesan/informasi yang dikandungnya.

    Adapun syarat-syarat media dalam pengembangan kognitif anak usia dini adalah menarik/menyenangkan, baik warna maupun bentuk, tumpul (tidak tajam), ukuran disesuaikan anak usia dini, tidak membahayakan anak, dan dapat dimanipulasi. Beberapa syarat umum yang harus dipenuhi dalam pemanfaatan media dalam proses belajar mengajar, yakni: 1) sesuai dengan tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan; 2) dapat dilihat atau didengar; 3) dapat merespons anak belajar; 4) sesuai dengan kondisi individu anak; 5) dapat memberikan perkembangan kegiatan kepribadian anak; 6) dapat memberi kesempatan kepada anak untuk mewujudkan hasil karya; 7) dapat merangsang keinginan anak untuk terus ingin belajar dan melakukan eksplorasi dan inovasi; serta 8) bentuk konkret, luwes, dan fleksibel.

         Media sangat membantu pengembangan aspek perkembangan kognitif anak. Media kognitif sebaiknya mendorong aktivitas bermain berkualitas dan munculnya bakat yang dimiliki anak. Pendidik harus memiliki pengetahuan untuk memilih media yang tepat sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan anak dengan mengetahui kriteria sebagai berikut.

1.     Mengandung unsur pendidikan.

2.    Alat permainan tidak berbahaya bagi anak.

3.    Dasar pemilihan adalah minat dan kebutuhan anak terhadap mainan tersebut.

4.    Alat permainan sebaiknya beraneka macam sehingga anak dapat bereksplorasi dengan berbagai macam alat permainannya.

5.    Tingkat kesulitan sebaiknya disesuaikan pada rentang usia anak. Permainan tidak terlalu sulit dan juga tidak terlalu mudah bagi anak.

6.   Dasar pemilihan alat permainan lebih ditekankan pada pertumbuhan fisik dan tingkat perkembangan anak secara individu bukan berdasarkan usia. Perkembangan biologis dan fisik pada anak yang umurnya sama dapat berbeda.

7.    Peralatan permainan buatan sendiri diupayakan yang dapat bertahan lama atau awet, mudah dibuat, bahannya mudah diperoleh, dan mudah digunakan anak (Asolihin, 2013).

Posting Komentar

0 Komentar