PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK PERKEMBANGAN KOGNITIF ANAK USIA DINI



A.         PRINSIP PEMBELAJARAN MATEMATIKA ANAK USIA DINI

Berikut ini adalah beberapa prinsip dalam pembelajaran matematika anak usia dini (Lisa, 2017).

1.  Prinsip pembelajaran matematika anak usia dini diberikan secara bertahap diawali dengan menghitung benda-benda dan pengalaman peristiwa nyata yang dialami melalui pengamatan terhadap lingkungan se- kitar atau yang melibatkan kelima pancaindra.

2.  Pengetahuan dan keterampilan pada permainan matematika diberikan secara bertahap menurut tingkat kesukarannya.

3.  Pembelajaran matematika akan berhasil jika anak diberikan kesempatan berpartisipasi dan dilatih untuk menyelesaikan masalahnya sendiri.

4.  Pembelajaran matematika membutuhkan suasana yang menyenang- kan dan memberikan rasa aman serta kebebasan bagi anak. Hal ini memerlukan alat peraga/media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, menarik, bervariasi, mudah digunakan, dan tidak membahayakan.

    Pengembangan matematika bagi anak usia dini perlu memperhatikan beberapa prinsip agar tujuan pembelajaran dapat dicapai optimal. Berikut enam prinsip yang perlu diterapkan dalam pembelajaran oleh National Council of Teacher of Mathematics (NCTM).

1.    Keadilan. Harapan yang tinggi dan dukungan yang kuat untuk semua anak.

2.    Kurikulum. Kegiatan yang diberikan harus koheren, berfokus pada bagian yang penting, serta pembelajaran harus berhubungan dan berkelanjutan.

3.   Pengajaran. Pengajaran matematika yang efektif memerlukan pemahaman mengenai apa yang telah diketahui dan dibutuhkan oleh anak. Pengajaran yang diberikan harus menantang anak dan mendukung anak untuk mempelajari dengan baik.

4. Pembelajaran. Anak perlu belajar matematika dengan pemahaman secara aktif membangun pengetahuan baru dari pengalaman dan pengetahuan yang sebelumnya.

5. Assessment/penilaian. Penilaian perlu dilakukan untuk mendukung pembelajaran matematika dan memberikan informasi yang berguna bagi guru dan anak.

6.  Teknologi. Salah satu hal yang sangat penting dalam pengajaran dan pembelajaran matematika adalah teknologi.

      Keenam prinsip tersebut dapat diterapkan tidak hanya pada pembelajaran matematika, tetapi juga sebagai patokan pada keseluruhan pembelajaran untuk anak usia dini. Menurut NAEYC (National Association for the Education of Young Children), pendidikan matematika yang berkualitas untuk anak menuntut guru untuk melakukan hal-hal berikut.

1.  Meningkatkan minat dan kemampuan bawaan (bakat) alami anak dalam matematika sehingga dapat digunakan dalam memaknai kehidupan fisik dan sosial anak.

2.   Membangun pengalaman dan pengetahuan mengenai keluarga, bahasa, budaya, dan latar belakang masyarakat sekitar anak.

3.  Kurikulum matematika dan praktik pengajaran harus berlandaskan pada perkembangan kognitif, matematika, bahasa, fisik, serta perkembangan sosial dan emosional anak.

4. Menyediakan kesempatan bagi anak untuk berinteraksi secara mendalam dan berkelanjutan dengan gagasan yang berhubungan dengan matematika.

5.   Memperkenalkan konsep, metode, dan bahasa matematika secara aktif melalui sejumlah aktivitas dan strategi pembelajaran yang sesuai.

6.   Mendukung belajar anak dengan melakukan asesmen yang berkesinambungan terhadap keseluruhan pengetahuan, keterampilan, dan strategi anak dalam matematika.

 

 

B.          TAHAPAN PEMBELAJARAN MATEMATIKA ANAK USIA DINI

Banyak anggapan selama ini bahwa pembelajaran matematika sangat sulit. Hal ini disebabkan karena paradigma orang dewasa ataupun orang tua sering mengatakan bahwa matematika itu sulit. Berkhayal tentang matematika sulit dilakukan, anak akan merasa senang belajar matematika dengan menggunakan pendekatan masalah sehari-hari yang sederhana (Sujiono, 2019).

     Tahapan pembelajaran matematika dimulai dari bahasa yang sederhana dan menggunakan contoh yang dekat dengan lingkungan anak. Berikut ini adalah pengelompokan tahapan pembelajaran matematika anak usia dini (Lisa, 2017).

1.   Penguasaan konsep, yaitu pemahaman tentang sesuatu menggunakan benda dan peristiwa konkret, seperti menghitung menggunakan ben- da serta pengenalan warna, bentuk, ukuran, dan posisi.

2.      Masa transisi, yaitu proses berpikir masa peralihan dari pemahaman konkret menuju pengenalan lambang yang abstrak dengan cara benda konkret tersebut masih ada dan mulai dikenalkan bentuk lambangnya.

3.      Lambang, merupakan visualisasi dari berbagai konsep. Contoh, lam- bang "5" untuk menggambarkan konsep bilangan "5", "kuning" untuk menggambarkan konsep warna "kuning", dan "besar untuk menggambarkan konsep ruang".

         Sebelum anak memahami konsep bilangan secara komprehensif, diperlukan beberapa kemampuan yang mendukung terbangunnya konsep secara benar. Kemampuan tersebut yaitu kemampuan untuk membilang. korespondensi satu-satu, serta pengetahuan tentang jumlah, perbandingan, dan simbol dari suatu bilangan. Secara terperinci, tahapan anak memahami konsep bilangan dijelaskan sebagai berikut.

 

1.     Membilang (Hafal Angka dan Menyebutkannya)

Kemampuan ini diawali dengan kemampuan anak menghafal angka dan me- nyebutkannya secara urut, misal 1-10. Kemampuan membilang ini berkem- bang ketika anak diajak bernyanyi atau bersajak tentang bilangan, bermain tentang bilangan menggunakan jari, dan sebagainya.

 

2.    Korespondensi Satu-Satu

Korespondensi satu-satu merupakan suatu pemahaman bahwa setiap anggota memiliki pasangan atau hubungan dengan satu anggota lain dengan jumlah yang sama. Contoh, setiap anak mendapatkan sekeping biskuit, setiap orang memakai topi, dan setiap kelompok benda berpasangan dengan sebuah angka. Pemahaman seperti ini merupakan permulaan dari kemampuan berhitung dan dasar dalam memahami persamaan dan konsep konservasi dalam bilangan.

         Untuk menumbuhkan pemahaman mengenai korespondensi satu-satu ini, anak memerlukan contoh nyata dari berbagai aktivitas yang diintegrasikan dalam kegiatan sehari-hari. Misalnya, ketika anak menghitung kumpulan kancing, kesalahan yang sering terjadi adalah membilang ulang pada satu kancing yang sama (ketika memegang satu kancing, ia menyebut angka "satu, dua"). Guru perlu memberikan contoh agar anak tetap menyebutkan satu angka saat memegang sebuah benda. Misalnya, dengan memindahkan objek yang sudah dihitung ke tempat yang lain sehingga tidak terhitung ulang.

 

3.    Kuantitas (Jumlah), Perbandingan, dan Simbol Bilangan

Kuantitas atau jumlah adalah suatu konsep tentang keseluruhan (mengetahui bahwa objek terakhir yang dihitung merupakan perwakilan dari jumlah benda secara keseluruhan). Contoh, ketika seorang anak diminta untuk membawa lima buah apel, kemudian dia kembali dengan membawa lima buah apel. Sebenarnya, ia tidak hanya mampu berhitung sampai lima, tetapi bisa jadi dia telah paham mengenai jumlah. Anak yang telah memahami suatu urutan bilangan mengetahui bahwa sekelompok benda jika dihitung dari kanan ke kiri atau dari kiri ke kanan atau dihitung dengan cara yang lain jumlah benda akan tetap sama, tidak akan berubah selama tidak ada penambahan atau pengurangan benda yang sama. Kemampuan membandingkan termasuk kemampuan untuk mengetahui makna "lebih banyak" atau "lebih sedikit", "lebih besar" atau "lebih kecil" dari, dan "sama dengan".

    Menumbuhkan pemahaman tentang konsep dari simbol bilangan adalah memperlihatkan simbol dari bilangan atau angka. Misalnya, "3" dibarengi dengan menunjukkan benda berjumlah tiga. Simbol bilangan hanya akan memiliki makna bagi anak ketika diperkenalkan sebagai label dari suatu jumlah benda yang konkret. Oleh karena itu, ketika mengenal- kan anak sebuah angka (simbol bilangan), angka tersebut harus dihubung- kan dengan jumlah benda yang diwakilkan oleh angka tersebut.

         Ciri-ciri anak yang mulai menyenangi permainan berhitung antara lain:

a.    spontan menunjukkan ketertarikan pada aktivitas berhitung;

b.  anak mulai menjumlahkan atau mengurangi angka dan benda-benda yang ada di sekitarnya tanpa disengaja

c.    spontan menghitung benda-benda yang ada di sekitarnya;

d.    anak mulai menyebutkan urutan bilangan; dan

e.   anak mulai membanding-bandingkan benda-benda dan peristiwa yang ada di sekitarnya.

Posting Komentar

0 Komentar